Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) China di Indonesia atau China Chambers of Commerce in Indonesia (CCCI) mengirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi iklim investasi dan pengusahaan di Indonesia. Dalam surat tersebut, para pengusaha China yang berinvestasi di Indonesia menyampaikan sejumlah kekhawatiran mulai dari pengetatan regulasi, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), hingga pengurangan kuota pertambangan nikel.
Berdasarkan salinan surat yang beredar, para investor sebenarnya masih memandang prospek investasi di Indonesia cukup positif. Namun, mereka mengaku menghadapi tantangan yang dinilai mengganggu operasional bisnis.
Beberapa persoalan yang disoroti antara lain pengetatan regulasi, penegakan hukum yang dianggap berlebihan, hingga praktik korupsi dan pemerasan oleh oknum otoritas tertentu.
“Permasalahan tersebut telah secara serius mengganggu kegiatan usaha normal, secara langsung melemahkan kepercayaan investasi jangka panjang, dan menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan perusahaan investasi China terhadap iklim usaha saat ini serta prospek pengembangan mereka di Indonesia,” demikian isi surat tersebut, dikutip Rabu (13/5/2026).
Dalam surat itu, terdapat enam isu utama yang menjadi perhatian investor China.
Pertama, kenaikan berbagai pajak dan pungutan, termasuk royalti sumber daya mineral serta pengenaan denda dan pajak yang dinilai terlalu besar.
Kedua, kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di perbankan nasional yang dinilai berpotensi mengganggu likuiditas perusahaan.
Ketiga, pengurangan kuota bijih nikel yang disebut mencapai 70% atau sekitar 30 juta ton. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada pengembangan industri hilir seperti kendaraan listrik dan baja nirkarat.
Tantangan yang Dihadapi Investor Asing di Indonesia
Investor asing, termasuk dari China, terus memperhatikan berbagai tantangan di pasar Indonesia. Pengetatan regulasi yang ketat membuat mereka harus lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Deviasi dari norma yang berlaku juga seringkali membuat mereka khawatir tentang stabilitas bisnis mereka.
Beberapa investor mengeluhkan prosedur birokrasi yang cukup rumit dan memakan waktu. Hal ini berdampak pada efisiensi operasional dan kecepatan pengambilan keputusan investasi. Tak jarang, mereka harus menghadapi berbagai rekomendasi dan izin yang bersifat tidak konsisten dari pihak berwenang.
Selain isu regulasi, biaya tinggi untuk mematuhi berbagai persyaratan juga menjadi kendala bagi investor baru. Banyak yang merasa tertekan dengan tingginya pajak yang harus dibayar, terutama dalam sektor sumber daya alam. Ini dapat mengurangi daya tarik investasi di sektor-sektor yang seharusnya menguntungkan.
Pentingnya Menjaga Relasi Baik dengan Investor Asing
Menjaga relasi baik dengan investor asing sangat penting untuk kesehatan ekonomi suatu negara. Keterlibatan luar negeri memberikan peluang bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi. Oleh karena itu, pemerintah harus aktif dalam mendengarkan dan merespons kekhawatiran investor.
Umpan balik dari investor seharusnya menjadi indikator untuk perbaikan kebijakan. Dalam konteks ini, kolaborasi antara sektor pemerintah dan swasta menjadi sangat krusial. Keduanya harus memiliki tujuan yang sama dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Pemerintah juga perlu memberikan insentif yang menarik untuk mendukung sektor-sektor tertentu. Misalnya, dalam industri hijau atau teknologi tinggi. Ini tidak hanya akan menarik investasi tetapi juga mendatangkan inovasi yang diperlukan untuk menjadikan perekonomian lebih kompetitif.
Perspektif Masa Depan Investasi di Indonesia
Walaupun ada berbagai tantangan, prospek masa depan untuk investasi di Indonesia tetap cerah. Negara ini memiliki sumber daya alam yang melimpah serta pasar yang besar. Ini menciptakan berbagai peluang untuk pertumbuhan, terutama jika masalah-masalah yang dihadapi dapat teratasi dengan baik.
Adopsi teknologi baru dalam industri juga dapat mempercepat perkembangan ekonomi. Peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas informasi akan mempermudah investor dalam memanfaatkan peluang yang ada. Keberpihakan pemerintah pada investasi berbasis teknologi akan menguntungkan bagi semua pihak.
Dalam beberapa tahun ke depan, investor diharapkan dapat lebih optimis terhadap kondisi iklim usaha di Indonesia. Dengan langkah-langkah yang tepat, potensi besar yang dimiliki negara ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini akan membawa dampak positif tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi masyarakat luas.



