Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, melaporkan bahwa jumlah rumah yang rusak akibat gempa bumi di daerah tersebut mencapai 2.319 unit. Dari total tersebut, 1.966 rumah mengalami kerusakan ringan, sedangkan 219 rumah rusak sedang, dan 134 rumah mengalami kerusakan berat.
“Data ini diperoleh dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB),” kata Kepala BPBD Sigi, Henri Kusuma, dalam pernyataannya. Saat ini, total korban yang terdampak bencana tersebut berjumlah 8.586 jiwa, yang terdiri dari 2.762 kepala keluarga.
Dari data terbaru yang dirangkum, terdapat 17 korban mengalami luka berat dan 108 luka ringan, sementara tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Hal ini menunjukkan dampak signifikan yang ditimbulkan gempa bumi dalam waktu singkat.
Dampak Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Sigi
Wilayah yang terkena dampak bencana ini tersebar di 42 desa yang meliputi sembilan kecamatan. Di antara kecamatan tersebut, Sigi Kota, Palolo, Nokilalaki, dan Lindu tercatat sebagai daerah yang mengalami kerusakan paling parah.
Desa-desa seperti Uneni, Tongoa, Kamarora A, Kamarora B, dan Sintuwu menjadi titik fokus perhatian karena tingkat kerusakannya yang lebih tinggi. Banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan fasilitas dasar yang mereka perlukan.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga memicu kekhawatiran terkait kesehatan dan keamanan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di bawah tekanan berat akibat bencana ini memerlukan dukungan segera.
Kerusakan Infrastruktur dan Fasilitas Umum
Bencana yang terjadi juga merusak berbagai fasilitas umum di Kabupaten Sigi. Beberapa kantor pemerintahan, masjid, gereja, sekolah, dan puskesmas mengalami kerusakan yang cukup parah.
Secara rinci, terdapat 16 masjid dan 63 gereja yang terdampak, serta 37 sekolah dan lima puskesmas yang rusak berat. Fasilitas-fasilitas ini sangat penting untuk pemulihan keadaan setelah bencana.
BPBD Sigi melaporkan bahwa data kerusakan ini terus diperbarui setiap harinya. Dengan keadaan yang berubah cepat, laporan ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menanggapi situasi.
Pengawasan dan Upaya Penanggulangan Bencana oleh BPBD
BPBD berkomitmen untuk melakukan pengawasan dan penanggulangan terhadap bencana yang terjadi. Kerja sama dengan instansi lain sangat diperlukan untuk memberikan bantuan kepada korban dan menciptakan langkah pemulihan yang efektif.
Henri Kusuma, Kepala BPBD, mengungkapkan bahwa petugas di lapangan sangat aktif dalam melakukan pengawasan. Mereka terus memantau situasi dan melaporkan perkembangan kepada Pemkab Sigi.
Selain itu, citra satelit dan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga digunakan untuk menganalisis dampak gempa. Pihak-pihak terkait diharapkan bisa berkoordinasi lebih baik untuk mempercepat proses pemulihan.



