Di tengah perjalanan politiknya di Provinsi Lampung, Presiden Joko Widodo merasakan momen nostalgia yang mendalam ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Qodiri. Pertemuan tersebut mengingatkannya pada masa-masa kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang penuh kenangan.
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan Jokowi dengan para santri dan masyarakat setempat. Tambahan lagi, Jokowi berkesempatan menjumpai Utama Priyadi, adik kelasnya yang tak menyangka bisa bertemu kembali setelah sekian lama.
Bagi Jokowi, hari itu adalah kesempatan berharga untuk mengingat masa-masa lalu yang telah berlalu lebih dari empat dekade. Pertemuan dengan Utama membuatnya merasakan kembali nuansa persahabatan yang telah terjalin di masa perkuliahan.
Momen Nostalgia di Ponpes Nurul Qodiri dan Pertemuan dengan Utama Priyadi
Utama Priyadi, yang juga merupakan alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1982, merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan Jokowi. Bagi keduanya, pertemuan ini menjadi kenangan manis setelah bertahun-tahun berpisah.
Utama mengenang saat terakhir mereka bertemu di kampus saat Jokowi masih menjabat sebagai Presiden pada periode pertama. Momen tersebut mengingatkannya pada hubungan erat yang terjalin di antara mahasiswa, mengingat jumlah mahasiswa di fakultas tersebut relatif sedikit.
Jokowi dan Utama berbagi kenangan tentang aktivitas di kampus, termasuk saat mereka mendaki gunung bersama. Keduanya merasa bahwa pengalaman kuliah mereka adalah fondasi dari persahabatan yang langgeng.
Dalam perbincangan mereka, Utama dengan semangat mengingatkan Jokowi akan momen-momen penting selama masa kuliah, termasuk persiapan wisuda. Keduanya tampak penuh ceria saat mengenang masa lalu yang penuh warna.
Ketika diperkenalkan kepada tamu undangan, Utama langsung menyebutkan angkatan kuliah mereka. Canda tawa pun tak terhindarkan saat Jokowi menyadari kehadiran adik angkatannya itu di tengah kesibukan blusukan di Lampung.
Rangkaian Safari Politik Tiga Hari di Lampung
Kunjungan Jokowi ke Lampung dikemas dalam agenda safari politik yang berlangsung selama tiga hari, dari 26 hingga 28 Juni 2026. Selama waktu tersebut, selain mengadakan pertemuan politik, ia juga menjalin silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat.
Jokowi memulai rangkaian kegiatan di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang dengan menghadiri Rapat Koordinasi Daerah PSI. Selanjutnya, ia menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” yang diberikan oleh lima kerajaan adat Lampung.
Tak hanya itu, Jokowi juga meluangkan waktu untuk bertemu dengan relawan, tokoh adat, dan masyarakat. Ia juga mengunjungi Museum Transmigrasi di Desa Bagelen dan berbincang dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Maliosewu.
Setiap sesi pertemuan menambah kekuatan ikatan antara Jokowi dan masyarakat Lampung. Masyarakat terlihat antusias menyambut kehadiran presiden, mencerminkan harapan dan keinginan mereka untuk lebih terlibat dalam pembangunan daerah.
Kunjungan kerjanya berakhir dengan silaturahmi ke dua pondok pesantren, Nurul Qodiri dan Ponpes Tribakti. Sebelum bertolak kembali ke Jakarta, Jokowi mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari masyarakat yang ia temui selama kunjungan ini.
Pentingnya Kenangan Masa Lalu dalam Membangun Hubungan Baru
Pertemuan Jokowi dan Utama tidak hanya menggugah nostalgia, tetapi juga membangun kembali jalinan hubungan yang mungkin sempat terkikis oleh waktu. Kenangan masa lalu dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan di masa kini.
Momen-momen seperti ini penting sebagai pengingat bahwa meskipun status dan posisi seseorang bisa berubah, ikatan persahabatan tetap dapat terjaga. Keduanya menyadari bahwa masa lalu mereka di kampus adalah bagian dari fondasi karakter yang dibawa hingga saat ini.
Interaksi lintas generasi menciptakan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan memotivasi satu sama lain. Jokowi sendiri mengaku merasa terinspirasi oleh dedikasi yang ditunjukkan oleh Utama dan para santri di pondok pesantren.
Pertemuan ini juga memberikan pelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga hubungan, baik di ranah pribadi maupun profesional. Melalui pengalaman hidup dan pertemuan yang hangat ini, mereka mampu saling mendukung dalam perjalanan masing-masing.
Kedepannya, diharapkan pertemuan-pertemuan seperti ini bisa lebih sering terjadi, tidak hanya untuk menjalin silaturahmi tetapi juga untuk menciptakan kolaborasi yang lebih baik antar berbagai pihak. Hal ini bisa menjadi langkah positif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan progresif.



