Kementerian Pertahanan (Kemhan) sedang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) setelah insiden tragis yang mengakibatkan lima peserta meninggal dunia. Evaluasi ini termasuk penyesuaian pelaksanaan kegiatan yang bertujuan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kepala Biro Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyampaikan rasa duka cita mendalam atas kepergian para peserta tersebut. Dia menegaskan pentingnya memasukkan masukan dari berbagai pihak, termasuk DPR dan Komnas HAM, dalam proses evaluasi ini.
“Kami berharap evaluasi ini akan membawa hasil yang positif dan meningkatkan keselamatan bagi semua peserta di program yang akan datang,” kata Rico dalam pernyataan yang disampaikan pada Senin, 29 Juni.
Evaluasi Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia Secara Menyeluruh
Rico menjelaskan bahwa dalam evaluasi ini, ada beberapa penyesuaian yang perlu dilakukan. Pertama, kegiatan yang sebelumnya dianggap sebagai latihan dasar militer kini dialihkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Ini dilakukan untuk memperjelas tujuan dari program yang tidak lain adalah membentuk karakter dan disiplin peserta, bukan untuk menjadikan mereka sebagai prajurit. Setiap peserta diharapkan mampu mengembangkan peran kepemimpinan dan kerja sama di masyarakat.
Kemhan juga merencanakan untuk melakukan penyesuaian materi kegiatan dengan mengurangi elemen teknis dan taktis militer. Hal ini agar lebih relevan dengan kebutuhan calon manajer koperasi dan cenderung lebih berfokus pada pengembangan manajerial.
Penekanan pada Kesehatan Peserta dalam Program Pelatihan
Salah satu aspek penting yang jadi perhatian dalam evaluasi ini adalah kesehatan peserta. Rico menekankan bahwa kesehatan para peserta akan diperkuat melalui profiling kesehatan serta pemeriksaan berkala yang lebih intensif.
Monitoring kondisi kesehatan sehari-hari menjadi krusial agar tidak ada peserta yang dibebani dengan kegiatan fisik yang terlalu berat, terutama mereka yang memiliki kondisi medis tertentu. Ini bertujuan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan di masa mendatang.
Peserta yang menunjukkan faktor risiko juga akan diberikan label khusus, sehingga mereka tidak dituntut untuk mengikuti kegiatan fisik yang berlebihan. Dengan cara ini, diharapkan keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan.
Modifikasi Metode Pelaksanaan dalam Program
Menurut Rico, meskipun ada perubahan besar dalam program, esensi pembinaan tetap terjaga. Aspek bela negara, disiplin, serta kepemimpinan akan tetap diutamakan, namun dengan pendekatan yang lebih adaptif dan edukatif.
Metode pelaksanaan pelatihan akan disesuaikan dengan latar belakang peserta, yang kebanyakan merupakan warga sipil. Pendekatan ini diharapkan memberikan dampak positif dan jauh lebih relevan dalam konteks pengelolaan koperasi.
Rico menegaskan bahwa penting untuk menciptakan suasana pelatihan yang nyaman dan mendidik bagi semua peserta. Partisipasi aktif dan kolaborasi antara peserta akan menjadi fokus utama dalam setiap sesi pelatihan ke depan.



