Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran besar terjadi di pasar properti Indonesia, terutama dengan semakin banyaknya perempuan yang berinvestasi. Terlebih lagi, data terbaru menunjukkan bahwa perempuan kini menyumbang lebih dari setengah pencarian properti, mencapai angka 52 persen, dan peranan mereka dalam pengambilan keputusan keuangan keluarga semakin vital.
Tren ini muncul di tengah situasi inflasi yang bertahan pada angka 4,76%. Dalam kondisi normal, inflasi kerap diikuti oleh peningkatan harga properti, tetapi dalam situasi saat ini, kedua hal tersebut justru berlawanan arah, memberikan peluang yang menarik bagi para investor.
Pemahaman yang lebih baik tentang dinamika pasar dan inovasi dalam cara berinvestasi kini menjadi ciri khas perempuan. Mereka bukan lagi sekadar pendukung dalam keputusan keuangan keluarga, tetapi kini tampil sebagai pengambil keputusan utama yang mengarah pada pembelian aset.
Peran Meningkat Perempuan Dalam Dunia Investasi Properti
Banyak perempuan kini bertransformasi menjadi investor yang aktif. Fenomena ini dikenal sebagai “Prop-Femme Revolution” di mana porsi pencarian properti yang dilakukan oleh perempuan menunjukkan peningkatan signifikan, bahkan mencapai 58,7%.
Dalam hal pengajuan kredit perumahan, tercatat bahwa sekitar 35,5% dari akad pembiayaan rumah dilakukan oleh perempuan. Penelitian ini jelas menggambarkan perubahan pola di mana perempuan tidak lagi melihat investasi sebagai hal yang remeh.
Jumlah investor perempuan di pasar meningkat pesat, mencapai 5,8 juta orang dengan total aset lebih dari Rp500 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa perempuan kini mencari peluang dalam pengembangan aset dengan lebih agresif.
Marisa Jaya, Kepala Riset, menyatakan bahwa pendekatan perempuan saat ini sangat berbasis data. Mereka lebih mementingkan analisis mendalam tentang potensi imbal hasil sewa daripada sekadar estetika bangunan semata.
Anomali Inflasi dan Dampaknya di Pasar Properti
Kenaikan inflasi hingga mencapai 4,76% menciptakan dinamika yang tidak biasa dalam pasar properti. Terlepas dari inflasi yang tinggi, harga properti justru mengalami penurunan sekitar 0,4%, menciptakan gap valuasi yang cukup besar.
Kesempatan ini memungkinkan investor untuk membeli aset dengan harga yang lebih rendah dibandingkan nilai sebenarnya. Di sisi lain, tekanan biaya yang meningkat, termasuk kenaikan biaya konstruksi hingga 20%, berpotensi mendorong harga ke atas dalam waktu dekat.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya bergerak. Ada fase jeda di mana harga properti tidak langsung mengikuti inflasi, memberikan waktu bagi investor untuk memanfaatkan peluang ini.
Dinamika Pasar Properti di Wilayah Tangerang
Saat ini, wilayah Tangerang menunjukkan tanda-tanda menarik dalam dinamika pasar properti. Kawasan ini mengalami peningkatan minat pencarian sebesar 14,8%, melampaui Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Kondisi ini menandakan bahwa konsumen kini lebih mempertimbangkan Tangerang sebagai lokasi yang strategis untuk investasi. Sementara itu, suplai rumah sekunder secara nasional turun sekitar 7,8% secara tahunan, menciptakan tekanan tambahan pada harga.
Masih ada kesempatan bagi investor untuk mengeksplorasi opsi properti di area tersebut. Terutama untuk segmen harga di atas Rp3 miliar, yang menunjukkan daya tahan kapital yang lebih stabil dan mulai dianggap sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan.
Momen Entry Sebelum Penyesuaian Harga Agile
Kombinasi antara suplai yang terbatas dan naiknya biaya produksi memberikan tekanan pada harga properti di pasar. Dengan suku bunga acuan tetap di level 4,75% dan adanya insentif PPN DTP, investor memiliki kesempatan untuk mengakumulasi aset.
Waktu saat ini bisa dilihat sebagai fase entry yang menarik bagi investor. Dalam fase ini, harga properti belum sepenuhnya merefleksikan nilai fundamentalnya, memberikan peluang untuk pembelian yang menguntungkan.
Saat penyesuaian harga mulai terjadi, ruang untuk keuntungan dalam kategori undervalued biasanya tidak bertahan lama. Dengan demikian, langkah cermat harus diambil untuk memanfaatkan kondisi pasar yang sedang berubah ini.



