Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menyatakan dukungannya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam upaya memberantas korupsi, terutama yang terjadi di lingkaran pusat kekuasaan. Dalam pidatonya pada acara HUT ke-12 Projo, Budi Arie menekankan pentingnya komitmen tegas terhadap pembersihan praktik korupsi dari lingkungan pemerintahan.
Budi Arie, yang akrab disapa Muni, merasa prihatin dengan banyaknya pejabat yang mengaku bekerja untuk rakyat, namun di sisi lain terlibat dalam praktik korupsi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara janji dan tindakan yang perlu menjadi perhatian bersama.
Dalam pidatonya, ia mempertanyakan komitmen para pejabat yang berusaha tampil sebagai pelayan rakyat, sementara pada kenyataannya mereka terlibat dalam tindakan curang. Menurut Budi Arie, pemerintahan tidak bisa mengklaim bersih jika kelakuan korupsi masih merajalela di dalamnya.
Pentingnya Konsistensi dalam Pemberantasan Korupsi
Budi Arie menegaskan bahwa untuk mengatasi masalah korupsi, diperlukan langkah konkret yang menyentuh pusat kekuasaan. Ia mengatakan, “Kalau mau pemberantasan korupsi, harus disapu dari sekitar pusat kekuasaan.” Pernyataan ini menggambarkan kesungguhan Budi dalam mendukung upaya yang lebih strategis.
Menurutnya, proklamasi tentang pemerintahan bersih harus senada dengan tindakan yang diambil. Pemerintah tidak seharusnya mengabaikan praktik korupsi yang terjadi di kalangan elit dan justru melawan arus dari janji-janji perubahan yang telah dibuat.
Komitmen Projo untuk mendukung pemerintahan Prabowo dan Gibran dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 juga menjadi sorotan. Budi Arie mengungkapkan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam mendukung tujuan ini, sesuai dengan kapasitas dan bidang masing-masing.
Tantangan dalam Pelaksanaan Program Pemerintah
Budi Arie juga menyentuh pada sejumlah program pemerintah yang ia nilai baik. Namun, ia menegaskan bahwa banyak dari program tersebut tidak terlaksana dengan baik. “Kesalahan ini bukan kesalahan idenya, tetapi pada eksekusi dan praktik yang menyimpang,” ungkapnya.
Kritik ini melambangkan harapan adanya perbaikan dalam pelaksanaan kebijakan yang lebih menyentuh rakyat. Masyarakat pun berhak untuk mempertanyakan progres dan hasil dari setiap kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah.
Pentingnya transparansi dan akuntabilitas juga menjadi sorotan dalam pernyataan Budi Arie. Dengan meningkatnya kesadaran publik terhadap isu-isu korupsi, pemerintah dituntut untuk lebih tanggap dan bertanggung jawab terhadap program yang dijalankan.
Acara HUT Projo yang Sederhana namun Bermakna
Acara HUT ke-12 Projo dilaksanakan dengan sederhana di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) organisasi tersebut. Hanya pengurus inti dan beberapa anggota relawan yang hadir, tidak ada hiasan berlebihan ataupun poster besar yang mencolok.
Dalam acara tersebut, Budi Arie menanggapi pertanyaan mengenai tidak adanya gambar Jokowi atau Prabowo-Gibran. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak mengurangi esensi acara, dan menyatakan bahwa logo organisasi tetap mempertahankan identitas mereka.
Sikap yang ditunjukkan dalam acara ini, meskipun nampak sederhana, mencerminkan ketulusan dalam berjuang untuk tugas yang lebih besar. Projo berupaya untuk tampil sebagai suara rakyat melalui tindakan nyata, bukan sekadar simbolisme.



