Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang di Jorong Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini hidup dalam ketakutan. Ketakutan ini muncul akibat potensi terjadinya banjir bandang susulan yang dapat melanda daerah mereka kapan saja, terutama setelah hujan. Kegiatan sehari-hari pun terganggu, dan mereka merasa perlu meningkatkan kewaspadaan setiap saat.
“Setiap malam kami tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak kejadian banjir bandang sebelumnya,” kata Wita, salah satu warga setempat. Semua ini menyebabkan rasa cemas yang mendalam, berkat suara gemuruh yang mengintimidasi dari hulu sungai dan ancaman tanah longsor yang terus menghantui warga.
Setelah kejadian tanah longsor di jalan Kelok 25, lebih banyak warga terpaksa mengungsi. Situasi ini telah membuat seluruh komunitas mengambil langkah untuk melindungi diri dan keluarga mereka dengan mencari tempat yang lebih aman untuk tinggal.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Warga Pasar Maninjau
Banjir bandang yang melanda daerah ini memberikan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan banyaknya warga yang mengungsi, efek psikologis pun mulai terlihat. Ketidakpastian tentang masa depan tinggal di rumah sendiri sangat mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Selain itu, tempat penampungan darurat seperti musala menjadi penuh sesak, di mana ratusan orang terpaksa berbagi ruang sempit. Ini menciptakan tantangan kesehatan seperti kesinambungan penyebaran penyakit, dan meningkatkan risiko infeksi di lingkungan yang padat.
Beberapa warga bahkan melaporkan keluhan kesehatan, seperti flu dan gejala saluran pernapasan, akibat kondisi lingkungan yang tidak ideal dan stres berkepanjangan. Keadaan ini menuntut perhatian segera dari pemerintah seharusnya agar warganya tidak hanya aman tetapi juga sehat secara fisik dan mental.
Respons Pemerintah Terhadap Situasi Darurat di Agam
Pemerintah lokal, termasuk anggota DPRD Agam, menekankan pentingnya mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini. Beberapa dari mereka merekomendasikan kajian ilmiah mendalam untuk memahami kultur tanah yang ada di hulu sungai. Tindakan ini bertujuan untuk meminimalkan potensi masalah di masa depan.
Albert, salah seorang anggota DPRD, mengungkapkan, “Permasalahan ini perlu dianalisis dengan cermat agar solusi yang diberikan benar-benar efektif.” Ia juga menyampaikan harapannya agar semua pihak, dari pemerintah daerah hingga pusat, ikut serta dalam mencari solusi yang dapat melindungi masyarakat.
Sebelumnya, Bupati Agam, Benni Warlis, juga mengungkapkan bahwa penelitian dan penanganan teknis perlu dilakukan untuk mengevaluasi kondisi di hulu sungai. Penyelesaian yang efektif diharapkan dapat mengurangi risiko di masa mendatang serta memberikan rasa aman bagi warga.
Peran Masyarakat dalam Membangun Ketahanan Terhadap Banjir
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun ketahanan menghadapi banjir. Edukasi tentang pengelolaan lingkungan dan tindakan preventif perlu disampaikan kepada warga setempat. Mengetahui bagaimana cara menghadapi bencana bisa menyelamatkan nyawa dan harta benda.
Banyak warga yang kini melakukan pertemuan komunitas untuk berdiskusi mengenai strategi menghadapi kemungkinan bencana di masa depan. Dengan rasa kebersamaan dan solidaritas, mereka berusaha saling memberikan dukungan meskipun menghadapi tantangan yang berat.
Beberapa kelompok masyarakat bahkan berinisiatif untuk mengorganisasi pelatihan kesadaran bencana, yang bertujuan untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi darurat. Kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa, meski dalam keadaan sulit, semangat gotong royong masyarakat tetap kuat.
















