Dalam era kendaraan listrik yang semakin mendominasi, inovasi teknologi menjadi kunci untuk mendorong adopsi yang lebih luas. Salah satu startup yang muncul dengan solusi inovatif adalah Casion, yang baru-baru ini terpilih dalam program akselerator Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 8. Dari lebih dari 180 pendaftar, hanya lima startup yang berhasil lolos setelah melewati proses seleksi yang ketat.
Program ini memberikan peluang unik untuk kolaborasi langsung dengan Grab, yang merupakan salah satu pemain utama dalam sektor transportasi di Asia Tenggara. Dengan berfokus pada pengembangan jaringan pengisian daya untuk kendaraan listrik, Casion berpotensi memberikan dampak signifikan pada ekosistem mobilitas berkelanjutan.
Strategi Kolaborasi Casion dengan Grab yang Menjanjikan
Kolaborasi dengan Grab dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan layanan e-mobilitas. CEO dan Co-founder Casion, Kevin Pudjiadi, menekankan bahwa kerjasama ini sangat relevan dengan visi bisnis yang dijalani Casion. Dengan ambisi Grab untuk mengembangkan e-livery, Casion diharapkan bisa memberikan dukungan dalam pengisian daya dan pemilihan lokasi pengisian yang ideal.
Kevin menganggap bahwa sinergi ini dapat menguntungkan kedua belah pihak. Menurutnya, fokus bisnis Casion selaras dengan tujuan Grab untuk meningkatkan infrastruktur kendaraan listrik. “Dengan pendekatan berbasis data, kita bisa mendukung ekspansi yang dibutuhkan oleh mitra pengemudi,” jelas Kevin.
Melalui data yang diperoleh, Casion dapat menentukan lokasi charging station yang tepat dan efisien. “Kami berupaya mengetahui pola pengisian daya yang digunakan oleh pengemudi untuk mempermudah mereka dalam mengakses energi yang mereka butuhkan,” tandasnya.
Pentingnya Pendekatan Berbasis Data dalam Pengembangan Jaringan Pengisian
Casion mengandalkan metode riset yang mendalam untuk memahami kebutuhan pengemudi kendaraan listrik. Dengan melakukan focus group, perusahaan ini bisa mendapatkan wawasan berharga mengenai kebiasaan pengguna. Data yang terkumpul memungkinkan mereka merancang solusi yang lebih sesuai dan tepat sasaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemudi cenderung mengisi daya kendaraan mereka dua kali sehari—sebelum memulai operasional dan setelah menyelesaikan pekerjaan. Temuan ini menjadi landasan untuk menentukan lokasi charging station dan frekuensinya.
“Dengan memahami pola ini, kita bisa menyasar area yang saat ini kurang terlayani, seperti di Bekasi, yang diketahui membutuhkan lebih banyak charging point,” jelas Kevin. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya riset untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan di lapangan.
Inisiatif untuk Meningkatkan Infrastruktur Pengisian Daya
Casion berkomitmen untuk berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan stasiun pengisian. Upaya ini tidak hanya akan mendukung pengemudi, tetapi juga membantu dalam transisi menuju transportasi yang lebih berkelanjutan. “Proyek ini memiliki potensi untuk mengubah cara kita melihat kendaraan listrik dan pengisian daya,” tambah Kevin.
Lebih jauh lagi, Casion juga berencana melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan kendaraan listrik. Dengan mempromosikan manfaat dan efisiensi dari kendaraan ramah lingkungan, mereka berharap bisa meningkatkan kesadaran publik dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Keberhasilan Casion dalam mengimplementasikan jaringan pengisian ini juga bisa menjadi model bagi startup lain di sektor yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam bisnis sangat bergantung pada seberapa baik kita memahami dan memenuhi kebutuhan pasar.
















