Peningkatan kewaspadaan terhadap potensi Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi isu penting di kalangan warga Kota Bandung, Jawa Barat. Memasuki awal tahun 2026, berbagai langkah antisipatif diperlukan untuk mencegah lonjakan kasus yang mungkin terjadi.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan bahwa meskipun data kasus DBD menunjukkan penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir, masyarakat tetap harus waspada. Pada tahun 2025, tidak ada korban jiwa yang tercatat, tetapi masih ada kemungkinan epidemi akan muncul kembali.
“DBD memiliki pola epidemiologis yang jelas. Setelah mengalami penurunan, biasanya terjadi kenaikan kembali dalam siklus tiga tahun,” jelas Farhan dalam acara Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Lebak Gede. Oleh karena itu, kesiapsiagaan merupakan kunci dalam menghadapi situasi ini.
Pentingnya Kewaspadaan Dini untuk Mengatasi DBD
Farhan menegaskan bahwa keberhasilan mengurangi angka kasus DBD tidak boleh membuat masyarakat terlena. Kewaspadaan dini merupakan langkah kunci untuk mencegah potensi lonjakan kasus DBD di tahun yang akan datang.
Gejala awal demam sering kali dianggap sepele, namun harus diwaspadai. Jika terdapat demam tinggi yang tidak kunjung reda meskipun sudah diobati, masyarakat dianjurkan untuk segera berkonsultasi ke puskesmas terdekat.
Masyarakat diminta untuk tidak menunggu hingga kondisi kesehatan memburuk. Tanda-tanda seperti sakit kepala hebat, nyeri sendi, bintik merah di kulit, muntah-muntah, atau mimisan merupakan sinyal bahaya yang memerlukan perhatian segera.
Deteksi Dini Melalui Pemeriksaan Tes NS1
Farhan juga menyampaikan bahwa tes NS1 untuk deteksi dini DBD tersedia secara gratis di puskesmas. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tanpa biaya, yang penting untuk penanganan awal.
Jika hasil tes menunjukkan positif, dokter akan memberikan rujukan untuk perawatan lebih lanjut ke rumah sakit. Namun, jika tidak memerlukan perawatan rumah sakit, pasien tetap harus menjalani pemantauan medis di rumah.
Kepatuhan terhadap pemantauan kesehatan sangat penting, sebab tubuh yang sehat adalah kunci untuk melawan virus DBD. Langkah pencegahan ini mendemonstrasikan betapa vitalnya kesadaran kesehatan individu dalam mencegah penularan penyakit.
Seluruh Wilayah Kota Bandung Berisiko Terkait DBD
Farhan mengungkapkan bahwa tidak ada satu kecamatan pun di Kota Bandung yang benar-benar bebas dari risiko DBD. Ini menunjukkan bahwa potensi penularan bisa terjadi di setiap sudut kota.
Oleh karena itu, penegakan kebersihan lingkungan sangat diperlukan untuk menanggulangi tempat-tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat diimbau untuk secara rutin membersihkan wadah-wadah yang berpotensi menampung air.
Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan kampanye kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diharapkan berkolaborasi dengan petugas kesehatan untuk meminimalisir risiko DBD.
















