Perhatian publik terhadap isu child grooming kembali menguat seiring terbitnya buku berjudul Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie. Kemen PPPA memandang karya tersebut dapat menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat bahwa kekerasan terhadap anak adalah nyata dan dapat terjadi pada siapa saja.
Dibutuhkan upaya bersama untuk melakukan penguatan sistem perlindungan terhadap anak. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari segala bentuk diskriminasi, eksploitasi, dan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
“Kami mengajak orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih peka, membangun komunikasi terbuka dengan anak, serta berani bertindak jika menemukan tanda-tanda kekerasan atau grooming,” katanya. Apabila masyarakat menemukan indikasi child grooming atau kekerasan terhadap anak, segera laporkan melalui Unit Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) terdekat atau layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129) melalui call center 129 dan WhatsApp 08111-129-129.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Kasus Child Grooming
Kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi masalah child grooming. Kondisi ini tidak hanya dapat dicegah melalui pendidikan, tetapi juga dengan membangun komunikasi yang baik antara anak dan orang tua.
Melalui buku seperti Broken Strings, penulis berusaha menyampaikan betapa seriusnya masalah ini. Masyarakat diharapkan lebih peka dan mampu mengenali tanda-tanda awal dari praktik grooming yang sering kali terjadi di lingkungan sekitar.
Masyarakat perlu mempelajari cara mengenali indikasi grooming dan perilaku penyimpangan. Ketika anak-anak merasa aman untuk berbicara, mereka akan lebih terbuka dalam menyampaikan apa yang mereka alami kepada orang dewasa yang mereka percayai.
Perlunya Kolaborasi Antara Pihak Terkait
Kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat umum, sangat penting dalam memperkuat perlindungan anak. Saat semua elemen bekerja sama, upaya pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak dapat lebih efektif.
Misalnya, lembaga pendidikan dan masyarakat bisa berkolaborasi dalam mengadakan seminar atau workshop. Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang child grooming di kalangan orang tua dan anak-anak.
Melibatkan media dalam kampanye ini juga sangat efektif. Melalui berita, artikel, dan sosial media, pesan tentang bahaya grooming dapat disebarluaskan dengan lebih luas kepada masyarakat.
Sentuhan Hukum Dalam Perlindungan Anak
Pentingnya regulasi hukum dalam perlindungan anak tidak bisa diabaikan. Undang-Undang yang ada memberikan landasan bagi penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap anak secara lebih serius.
Penguatan regulasi harus diiringi dengan tindakan yang nyata di lapangan. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan harus dilakukan secara tegas agar masyarakat merasa terlindungi.
Selain itu, peningkatan kualitas aparat penegak hukum dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak juga sangat diperlukan. Pelatihan khusus tentang isu-isu terkini seputar perlidungan anak bisa membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam menanggapi kasus-kasus yang muncul.
















