Abu vulkanik dari letusan Gunung Ili Lewotolok telah menyebar luas, menyebabkan dampak signifikan bagi masyarakat di sekitarnya. Sekitar 27 desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kini merasakan efek dari erupsi tersebut.
Awalnya, hanya 7 desa yang tercatat terdampak, namun jumlah ini melonjak drastis. Ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung tersebut semakin meningkat dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Korban, menginformasikan desa-desa yang terdampak, termasuk Jontona, Lamaau, dan Baolaliduli. Ini adalah langkah awal untuk menginventarisasi wilayah yang terkena dampak langsung dari erupsi ini.
Daerah lain yang terpengaruh juga meliputi Aulesa, Lamawolo, dan Lamatokan. Dengan sudah menyebarnya abu vulkanik, kondisi di desa-desa ini menjadi semakin mengkhawatirkan, terutama bagi penduduk yang beraktivitas di luar rumah.
Peningkatan Status Aktivitas Vulkanik yang Meningkatkan Kewaspadaan
Pemerintah setempat telah meningkatkan status aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga). Peningkatan ini terjadi pada tanggal 18 Januari dan menunjukkan bahwa pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi erupsi yang lebih parah.
Menurut informasi yang diperoleh, aktivitas gunung tersebut menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang signifikan sejak awal Januari. Kolom abu yang dihasilkan tercatat mencapai tinggi 300 meter di atas puncak gunung, indikasi yang mengkhawatirkan bagi penduduk di sekitarnya.
Sejak tanggal 13 Januari, terjadi 341 kejadian gempa erupsi, dan aliran lava mulai terlihat keluar dari kawah. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa vulkanisitas gunung ini bermanifestasi secara lebih aktif dibanding sebelumnya.
Dengan status siaga, pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi arahan dari otoritas setempat. Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting mengingat situasi ini bisa berubah dengan cepat.
Dampak Sosial dan Ekonomi terhadap Warga Terdampak Erupsi
Dampak dari erupsi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat. Salah satu masalah paling mendesak adalah tercemarnya sumber air bersih di daerah tersebut. Hujan abu membuat air yang biasa digunakan oleh penduduk menjadi terkontaminasi.
Untuk mengatasi masalah ini, BPBD tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendistribusikan air minum bersih. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala, sehingga pihak BPBD harus mencari dukungan dari sektor swasta untuk menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga.
Tanaman pertanian warga juga terpukul parah akibat hujan abu vulkanik. Sayuran dan tanaman yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan kini tidak dapat dikonsumsi. Petani mengalami kerugian besar dan ini tentunya berpotensi mengganggu ketahanan pangan lokal.
Bahkan, stok masker di BPBD sangat terbatas dan hanya mencukupi kebutuhan darurat. Banyak warga terpaksa menggunakan kain sebagai pelindung sementara untuk menghadapi debu vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan.
Upaya Penanganan dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Pemerintah dengan cepat bergerak untuk menangani situasi ini dengan pengumuman yang menyertakan arahan untuk masyarakat. Meski aktivitas belajar mengajar di sekolah terdampak, pemerintah belum menetapkan libur karena masih memperkirakan erupsi tidak mengalami peningkatan signifikan.
Seluruh elemen masyarakat diimbau untuk menjalani langkah-langkah pencegahan. Ini termasuk memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta mengikuti instruksi dari petugas terkait aktivitas vulkanis.
Koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menanggulangi dampak dari bencana ini. Kesiapsiagaan dan kesadaran akan risiko yang ada dan upaya bersama untuk saling membantu menjadi sangat penting.
Situasi ini menjadikan sinergi antara pemerintah dan masyarakat lebih terjalin. Masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga untuk berkontribusi dalam menjaga keselamatan dan kesehatan bersama.
















