Pemilihan nama rokok Bentoel ternyata muncul dari sebuah mimpi yang dialami oleh pendirinya, Ong Hok Liong. Melalui pengalaman mendalam tersebut, merek ini telah menjadi salah satu merek rokok yang paling sukses dan dikenal luas di Indonesia.
Ong Hok Liong, yang berasal dari Bojonegoro, mendirikan pabrik rokok di Malang pada 1930-an bersama rekannya Tjoa Sioe Bian. Awalnya, pabrik tersebut dikenal dengan nama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong, sebuah nama panjang yang mencerminkan identitas pendirinya.
Di awal perjalanan, pabrik itu mengeluarkan produk-produk rokok dengan merek like Burung, Klabang, dan Djeroek Manis. Pada tahun 1951, nama pabrik tersebut mengalami perubahan menjadi NV Pertjetakan Liem An, dan tiga tahun kemudian berganti lagi menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.
Kisah di Balik Nama Bentoel yang Menginspirasi
Transformasi ini dipicu saat Ong sedang melakukan ziarah ke makam Mbah Djunggo yang berada di sekitar Gunung Kawi. Dalam perjalanannya, Ong terlintas satu mimpi yang menyentuh hatinya saat tertidur di dekat makam tersebut.
Dalam mimpinya, ia melihat ubi talas yang menggugah rasa ingin tahunya. Ia pun menanyakan arti mimpi itu kepada juru makam, yang memberinya petunjuk untuk mengganti nama pabriknya menjadi Bentoel.
Nama Bentoel sendiri diambil dari kata “bentul” yang dalam bahasa Jawa berarti ubi talas. Penulisan nama ini mengikuti tradisi sebelum adanya Ejaan Yang Disempurnakan yang diberlakukan pada tahun 1972.
Perkembangan Bentoel Sebagai Perusahaan Rokok Terbesar
Perubahan nama ini menjadi titik awal kesuksesan Bentoel sebagai sebuah perusahaan. Di puncak kejayaannya, Bentoel mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum memasuki tahun 1960-an.
Pada tahun 1967, Ong Hok Liong meninggal dunia sebagai seorang miliarder, dan Bentoel telah menjelma menjadi rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia. Sejarah ini menjadi warisan berharga bagi industri rokok di tanah air.
Namun, tidak semua perjalanan Bentoel berjalan mulus. Pada tahun-tahun berikutnya, perusahaan ini mengalami sejumlah kesulitan finansial yang cukup signifikan.
Pemecahan Masalah dan Perubahan Kepemilikan Bentoel
Bentoel menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman yang mencapai nilai US$170 juta kepada BRI dan Bank Bumi Daya, yang kemudian membengkak menjadi US$350 juta akibat utang kepada kreditor asing.
Dalam upaya mengatasi masalah keuangan ini, keluarga Ong Hok Liong terpaksa menjual 70% saham mereka. Penjualan ini menarik banyak minat, dan akhirnya Peter Sondakh dan Rajawali Wira Bhakti Utama berhasil menjadi pemilik baru.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1997, aset Bentoel dialihkan kepada perusahaan baru yang bernama PT Bentoel Prima, sementara PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel dibubarkan. Perubahan ini menandai babak baru bagi Bentoel dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Transformasi dan Keberlanjutan Bentoel di Era Modern
Memasuki tahun 2000, Bentoel Prima resmi berganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk., menandai transisi perusahaan menuju era modern. Di sinilah letak kolaborasi baru dimulai, yang berdampak langsung pada pertumbuhan dan inovasi perusahaan.
Pada saat yang sama, British American Tobacco mengambil alih kepemilikan 92,48% saham, sedangkan sisanya tetap di pegangan masyarakat. Transformasi kepemilikan ini menjadi kesempatan untuk memperluas jangkauan pasar Bentoel di tingkat internasional.
Hari ini, Bentoel tetap menjadi sebuah merek yang kuat. Dengan komitmen pada kualitas dan pengembangan produk, perusahaan ini terus berupaya memenuhi kebutuhan konsumen sambil menjaga warisan budaya yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.



