Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama Indonesia sedang mempersiapkan mekanisme Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk pondok pesantren yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Kebijakan ini diharapkan bisa menjaga proses belajar mengajar di wilayah yang terkena dampak kabut asap di beberapa pulau besar, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, menjelaskan bahwa pelaksanaan PJJ bagi pendidikan keagamaan mengikuti Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Surat tersebut diterbitkan pada 20 Agustus 2026, menandai langkah pemerintah dalam menghadapi situasi darurat yang disebabkan oleh bencana alam.
Saat ini, Direktorat Jenderal Pesantren sedang mengumpulkan data mengenai pondok pesantren yang ada di wilayah terdampak melalui Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Data ini akan menjadi dasar untuk menyusun kebijakan yang lebih efektif dalam masa pemulihan.
Adaptasi Pembelajaran Jarak Jauh di Pondok Pesantren
Penerapan PJJ di pondok pesantren berbeda dengan satuan pendidikan umum. Hal ini disebabkan oleh karakteristik pondok pesantren yang mayoritas santrinya tinggal di asrama.
Salah satu skema yang diusulkan adalah pembelajaran dengan metode “Satu Layar”. Di sini, santri dapat mengikuti materi dalam ruang yang aman dari asap dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di masing-masing pesantren.
Di sejumlah pesantren yang memiliki teknologi memadai, pengajaran dapat dilakukan secara bersamaan di dalam ruangan. Dengan cara ini, santri tetap bisa menyimak materi yang diberikan oleh pengajarnya lewat layar besar yang disiapkan.
Pemerintah Siap Melakukan Penanggulangan Karhutla
Langkah pemerintah dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terbatas pada pendidikan. Dinas terkait juga melakukan upaya penanggulangan secara menyeluruh, baik dalam penanganan kebakaran maupun dampaknya terhadap masyarakat.
Tanpa penanganan yang cepat dan efektif, kebakaran ini bisa mengancam kesehatan dan juga pendidikan anak-anak di wilayah terkena dampak. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan santri selama bencana ini berlangsung.
Sebagai contoh, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area yang terbakar. Hingga akhir Oktober, lebih dari 1.481 hektare lahan terbakar di berbagai provinsi yang menjadi prioritas penanganan kebakaran.
Data dan Informasi Terkait Kebakaran Hutan dan Lahan
Pemerintah sudah mengidentifikasi enam provinsi yang menjadi fokus penyelesaian karhutla. Provinsi tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.
Dari total area yang dibakar, lebih dari 500 hektare telah berhasil dipadamkan. Namun, tantangan selanjutnya adalah memadamkan sisa area yang masih terbakar demi mencegah semakin banyaknya kerusakan yang terjadi.
Dengan adanya upaya penanganan yang baik, diharapkan jumlah area yang terbakar dapat berkurang. Ini sangat penting untuk melindungi ekosistem dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Pendidikan tetap menjadi prioritas meskipun dalam kondisi darurat. Dengan skema PJJ yang disiapkan, santri di pondok pesantren diharapkan tetap bisa menerima pelajaran meski dalam situasi yang sulit.
Basnang menekankan pentingnya pemahaman dan dukungan dari semua pihak, baik masyarakat maupun pemangku kebijakan, untuk menjalankan proses pembelajaran ini. Ini bukan hanya sekadar soal pendidikan, tetapi juga tentang masa depan generasi negara.
Dengan kerjasama yang baik, harapannya proses pemulihan bisa berlangsung lebih cepat, sehingga pondok pesantren dapat kembali berfungsi optimal setelah bencana ini berlalu.



