Kinerja produsen mobil asal Swedia, Volvo Cars, mengalami penurunan yang signifikan pada kuartal III-2026. Saham perusahaan ini merosot hingga 24% pada penutupan perdagangan, mencatatkan angka terendah dalam sejarah akibat sejumlah masalah internal dan kondisi pasar yang kurang mendukung.
Kerugian operasional yang jauh melampaui ekspektasi menjadi sorotan utama, ditambah penggunaan kas yang dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Selain itu, pengumuman pemangkasan ribuan tenaga kerja juga menambah derita bagi perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Geely dari China.
Volvo menghadapi tantangan serius dalam memenuhi permintaan kendaraan listrik yang tidak stabil serta peningkatan tarif yang berpengaruh pada kinerja keuangan. Permasalahan di pasar China yang juga turut memengaruhi angka penjualan menambah beban yang harus ditanggung perusahaan.
“Kuartal III-2026 sangat mengecewakan dan mencerminkan tantangan yang lebih besar daripada yang kami perkirakan sebelumnya. Oleh karena itu, kami harus memperkuat rencana pemulihan,” jelas CEO Volvo, Hakan Samuelsson.
Perjalanan Bisnis Volvo yang Semakin Rumit di 2026
Dalam laporan keuangannya, Volvo melaporkan kerugian operasional sebesar 3,7 miliar krona Swedia, atau sekitar 373 juta dolar AS, yang berbanding terbalik dengan laba sebesar 5,8 miliar krona dari tahun sebelumnya. Kerugian ini jauh lebih besar dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan angka sebesar 724 juta krona.
Situasi yang dihadapi Volvo mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi produsen mobil Eropa. Permintaan yang mengarah kepada penjualan yang lemah dan kompetisi ketat dari produsen mobil asal China menjadi faktor penyebab penurunan ini, ditambah dengan kelebihan kapasitas pabrik yang memengaruhi margin keuntungan di seluruh industri.
Sebagai tambahan, Volvo juga menghabiskan kas sebesar 8,9 miliar krona selama kuartal ini, yang merupakan dua kali lipat dari jumlah yang terpakai pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Keadaan ini memicu kekhawatiran bahwa jika berlanjut, perusahaan mungkin perlu mencari tambahan modal dalam waktu dekat.
Volvo menyatakan bahwa langkah-langkah terbaru, termasuk pemangkasan 2.500 tenaga kerja, akan berdampak pada sekitar 6% dari total karyawan. Pemangkasan ini menambah pengurangan 3.000 pekerjaan yang telah diumumkan sebelumnya, menciptakan ketidakpastian di kalangan karyawan dan pemegang saham.
Volvo dalam Krisis yang Mendalam dan Menantang
Samuelsson kembali dari masa pensiunnya pada tahun 2025 dengan misi untuk membalikkan keadaan Volvo. Namun, meskipun perusahaan telah berupaya memotong biaya dan memperbaiki hubungan dengan Geely, prospek bisnis justru semakin suram.
Sebagai akibatnya, Samuelsson menyatakan bahwa perusahaan perlu mengurangi biaya tambahan sebesar 5 miliar krona untuk memastikan keberlangsungan di masa depan. Klaus Zellmer, yang akan menggantikan Samuelsson, dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar daripada yang diduganya pada saat penunjukan.
Dalam upaya untuk mengatasi masalah ini, Volvo mengandalkan model baru EX60 sebagai kunci pemulihan. Sayangnya, proses perakitan baterai mengalami kendala yang signifikan, sehingga produksi baru mencapai 5.000 unit dari target 40.000 unit yang direncanakan untuk tahun ini.
Perusahaan juga mengambil langkah drastis dengan membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas untuk setahun penuh. Fokus kini dialihkan pada peningkatan margin alih-alih mengejar pangsa pasar di China, di tengah penurunan pendapatan kuartal ketiga yang mencapai hampir 50%.
Reformasi yang Diperlukan untuk Kembali ke Jalur yang Benar
Meskipun situasi saat ini mengkhawatirkan, Volvo tetap memiliki keunggulan di bidang teknologi dan struktur biaya berkat dukungan dari Geely. Namun, mereka mengakui bahwa strategi pemasaran dan produksi perlu ditinjau ulang untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Volvo mencatat bahwa margin kotor perusahaan turun menjadi 14,7% pada kuartal III, sebuah penurunan yang signifikan dari 20,4% pada periode yang sama tahun lalu. Sejumlah model baru yang direncanakan untuk diluncurkan hingga akhir dekade dirancang khusus untuk pasar China, dengan harapan dapat meningkatkan performa di pasar penting tersebut.
Samuelsson mengakui keputusan yang diambil harus lebih tepat sasaran, terutama di pasar China yang dinamis. Biaya produksi dan kebijakan tarif yang baru diberlakukan dianggap sebagai salah satu kelemahan yang tidak boleh dianggap remeh.
“Kami belajar bahwa pendekatan kami perlu lebih regional dan responsif terhadap perubahan pasar. Oleh karena itu, kami berupaya untuk memperbaiki semua kelemahan yang ada,” ujar Samuelsson, menegaskan komitmen perusahaan untuk bangkit dari keterpurukan ini.



