Bencana yang melanda Sumatera pada bulan November 2025 telah membawa dampak yang sangat signifikan, terutama dalam aspek ekonomi. Kerugian yang diakibatkan oleh banjir dan longsor ini diperkirakan mencapai angka yang mencengangkan, yaitu Rp 68,67 triliun secara nasional.
Menurut analisis yang dilakukan oleh CELIOS pada akhir November 2025, kerugian ini setara dengan penurunan 0,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kerugian ini mencakup beragam sektor yang terpapar, dengan konsekuensi yang sangat serius bagi perekonomian daerah.
Penyebab utama kerugian tersebut berasal dari tiga provinsi yang paling parah terkena dampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sektor-sektor yang mengalami kerugian terbesar termasuk konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta pertanian tanaman pangan.
Berdasarkan analisis, diperkirakan ekonomi Aceh sendiri menyusut sekitar 0,88 persen, yang setara dengan Rp 2,04 triliun. Angka ini menunjukkan seberapa dalam dampak bencana ini telah meresap ke dalam struktur ekonomi regional.
Rincian Kerugian Akibat Bencana di Sumatera
Kerugian total sebesar Rp 68,67 triliun berasal dari berbagai sumber kerugian yang berbeda. Lima faktor utama yang berkontribusi terhadap angka ini harus dipahami untuk melihat gambaran yang lebih jelas mengenai dampak bencana ini.
Kerugian rumah menjadi salah satu bagian terbesar dari kerugian tersebut. Dengan asumsi kerugian mencapai Rp 30 juta per unit rumah, dampak ini terasa bagi banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Selain itu, kerugian pada infrastruktur, seperti jembatan, juga memberikan dampak yang signifikan. Setiap jembatan yang hancur memerlukan biaya pembangunan kembali mencapai Rp 1 miliar, yang tentu menambah beban bagi pemerintah daerah dan pusat.
Kerugian pendapatan keluarga pun tak bisa diabaikan. Dihitung berdasarkan pendapatan harian yang hilang selama periode 20 hari kerja, hal ini menambah tekanan tersendiri bagi keluarga yang terdampak.
Tak hanya itu, lahan pertanian juga mengalami kerugian besar. Dengan kehilangan potensi hasil mencapai Rp 6.500 per kilogram, dan asumsi hasil per hektare mencapai tujuh ton, sektor ini sangat terpukul akibat bencana.
Data Kerugian dan Dampak pada Masyarakat
Data sementara mencatat bahwa lebih dari 61.518 rumah mengalami kerusakan atau dampak dari bencana ini. Di samping itu, 18 jembatan mengalami kehancuran, dan sekitar 14.600 meter jalan mengalami kerusakan berat.
Lebih dari 96.110 keluarga atau sekitar 220.309 jiwa merasakan langsung dampak dari bencana tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial masyarakat.
Kerusakan luas di sektor pertanian juga mencolok, terutama dengan 1.495 hektare sawah yang rusak. Ini berarti kehilangan besar tidak hanya bagi para petani, tetapi juga bagi proses penyediaan pangan secara umum.
Dalam konteks yang lebih luas, dampak bencana ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial dan psikologis masyarakat. Banyak keluarga harus berjuang untuk mendapatkan kembali apa yang hilang akibat bencana ini.
Aspek pemulihan menjadi krusial setelah bencana semacam ini. Pemerintah dan pihak terkait perlu bergerak cepat untuk mengatasi kerugian dan membantu masyarakat yang tertimpa musibah.
Pentingnya Penanganan dan Mitigasi Bencana di Masa Depan
Penanganan bencana merupakan hal yang sangat penting, terutama menjelang kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa depan. Proses mitigasi yang baik dapat mengurangi dampak kerugian yang mungkin terjadi.
Melalui pendekatan yang lebih terencana dan sistematis, kita dapat meminimalkan resiko dari bencana alam. Edukasi serta pelatihan untuk masyarakat juga sangat penting agar mereka lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa mendatang.
Pemerintah perlu menginvestasikan sumber daya untuk memperkuat infrastruktur dan sistem peringatan dini. Dengan cara ini, harkat dan martabat masyarakat dapat lebih terlindungi saat bencana terjadi.
Lebih dari itu, kerjasama antar pemerintah daerah, pusat, serta organisasi non-pemerintah sangat diperlukan untuk memaksimalkan penanganan yang tepat. Masyarakat pun harus dilibatkan dalam setiap tahap mitigasi dan pemulihan bencana.
Melihat dari pengalaman bencana ini, perubahan pola pikir tentang bagaimana mengelola risiko adalah langkah yang sangat berharga. Dengan langkah-langkah strategis, kita dapat berharap untuk mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkan dari bencana di masa yang akan datang.
















