Tayangan Culinary Class Wars Season 2 kini tengah menjadi sorotan banyak penonton, terutama di Korea Selatan, tempat asalnya. Acara ini menampilkan persaingan antara juru masak pemula (black spoon) dan chef berpengalaman yang telah diakui dunia, termasuk mereka yang menerima Michelin Star (white spoon).
Popularitas program ini tidak hanya terpantau dari jumlah penonton di platform streaming, tetapi juga berdampak signifikan terhadap industri kuliner. Restoran yang mempekerjakan peserta dari acara ini mengalami lonjakan pengunjung, menunjukkan adanya ketertarikan besar dari masyarakat untuk menikmati hidangan yang mereka sajikan.
Salah satu contoh nyata adalah restoran Okdongsik di Seoul, yang terkenal akan sup tulang babi berkuah bening racikan chef Ok Dong Sik. Pelanggan yang ingin menikmati hidangan tersebut harus rela antre lama, seringkali mulai pagi dan baru bisa makan saat siang hari.
“Saya menunggu di lokasi restoran pada pukul 9:30 pagi dan tetap saja dapat urutan ke-34 dalam daftar tunggu,” ungkap Choi Hye Rim, seorang mahasiswa berusia 21 tahun. “Kami baru mendapatkan tempat duduk hampir tengah hari. Sebelumnya, cabang Seoul tidak sepopuler sekarang,” tambahnya.
Restoran ini tidak hanya berkutat di Korea Selatan, namun juga memperluas sayapnya dengan membuka cabang di New York, Tokyo, Hawaii, dan Paris. Cabang di Manhattan, New York City bahkan telah diakui sebagai salah satu dari “8 Hidangan Terbaik Kota New York Tahun 2023” dalam ulasan sebuah publikasi terkemuka.
Mengapa Culinary Class Wars Begitu Menarik bagi Penonton?
Salah satu aspek yang membuat Culinary Class Wars begitu menarik adalah format kompetisinya yang unik dan berbobot. Setiap episode menampilkan beragam tantangan yang menguji kreativitas dan keterampilan para juru masak.
Combining enthusiasm and drama, acara ini tidak hanya sekadar tentang memasak, tetapi juga tentang cerita di balik perjalanan karier setiap pesertanya. Penonton dapat merasakan emosi dan ketegangan saat peserta bertarung untuk meraih impian mereka di dunia kuliner.
Bukan hanya itu, bumbu drama antar peserta juga menjadi daya tarik tersendiri. Rivalitas, persahabatan, dan momen-momen menggugah jiwa menambah dinamika acara ini, menarik perhatian berbagai kalangan penonton.
Pengaruh Acara pada Industri Kuliner di Korea Selatan
Dampak dari popularitas Culinary Class Wars tidak hanya dirasakan oleh peserta, tetapi juga oleh industri kuliner secara keseluruhan. Restoran yang tampil di acara ini mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat.
Para pemilik restoran berinovasi dengan menu dan konsep baru, berusaha menarik minat pelanggan. Dengan meningkatnya tren kuliner, banyak chef dan juru masak muda berusaha memanfaatkan peluang yang ada untuk mengembangkan karier mereka.
Nama-nama restoran yang tidak sepopuler sebelumnya kini menjelma menjadi destinasi kuliner yang wajib dikunjungi. Banyak orang rela menunggu berjam-jam demi mencicipi hidangan yang disajikan oleh chef yang pernah tampil di acara ini.
Melihat Masa Depan Culinary Class Wars dan Setelahnya
Dengan semakin berkembangnya minat masyarakat terhadap acara ini, ada potensi besar bagi season-season berikutnya. Creator acara akan terus berinovasi untuk memastikan kesegaran konten dan tantangan yang disajikan kepada penonton.
Selain itu, ketertarikan pasar internasional terhadap acara ini memberi peluang bagi ekspansi lebih lanjut. Sudah banyak restoran yang berupaya menyalin sukses yang dihasilkan oleh juru masak yang tampil di acara ini.
Di masa depan, Culinary Class Wars diperkirakan akan terus menjadi trendsetter dalam industri kuliner, menginspirasi banyak chef muda dan pengusaha makanan untuk berani mengeksplorasi kreatifitas mereka di dapur.
















