Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kubu Sujahri Somar baru-baru ini menyoroti isu serius terkait krisis lingkungan dan bencana yang melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk Sumatra. Mereka menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar peristiwa alam belaka, melainkan akibat dari ketimpangan dalam relasi antara manusia dan kebijakan yang diterapkan.
Sujahri Somar, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa bencana ekologis yang terjadi saat ini mencerminkan pembangunan yang sering kali mengabaikan kapasitas lingkungan dan keselamatan masyarakat. Ia mencatat bahwa eksploitasi sumber daya alam yang dilegalkan demi investasi dan pertumbuhan ekonomi seringkali mengorbankan rakyat kecil yang tidak memiliki suara dalam proses tersebut.
Pernyataan ini menegaskan bahwa krisis lingkungan adalah isu yang mendesak, yang memerlukan perhatian serius dan tindakan nyata. GMNI menolak mendiskusikan bencana sebagai takdir yang tidak bisa dihindari, melainkan hasil dari keputusan dan kebijakan yang dibuat manusia.
Memahami Akar Masalah Krisis Lingkungan di Indonesia
Sujahri menegaskan pentingnya memahami akar permasalahan yang menyebabkan krisis lingkungan. Dalam pandangannya, kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan sering kali diambil tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi yang menyeluruh terhadap kebijakan yang ada saat ini.
Pembangunan yang mementingkan keuntungan sesaat tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan menyebabkan kerusakan yang berkepanjangan. Aktivitas eksploitasi yang cepat bisa membawa dampak besar bagi keseimbangan ekosistem, merugikan masyarakat yang tergantung pada sumber daya alam tersebut.
Komitmen untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan sangat penting. Masyarakat harus diikutsertakan dalam setiap proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang menyangkut lingkungan mereka.
Peran Solidaritas dalam Menghadapi Bencana
GMNI menunjukkan kepedulian melalui aksi nyata, termasuk menggalang donasi untuk korban bencana di Sumatra. Bagi mereka, solidaritas bukan sekadar simbolik, melainkan langkah awal dalam perjuangan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik. Melalui tindakan nyata, GMNI ingin membangun kesadaran kolektif di kalangan masyarakat.
Sujahri percaya bahwa Marhaenisme, sebagai ideologi yang mengutamakan kepentingan rakyat, harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, solidaritas yang dibangun harus berorientasi pada kepentingan jangka panjang masyarakat, bukan hanya saat terjadi bencana.
Dalam konteks ini, penggalangan donasi menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian, tetapi GMNI juga berkomitmen untuk terus berjuang dalam advokasi kebijakan yang lebih adil. Ini adalah bagian dari upaya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.
Advokasi Jangka Panjang untuk Kebijakan Berkelanjutan
GMNI menekankan pentingnya advokasi jangka panjang untuk kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan adil. Sujahri mencatat bahwa hal ini tidak hanya penting saat bencana terjadi, tetapi juga dalam konteks keseharian sehingga kebijakan yang diambil benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Pengawasan dan evaluasi terhadap kebijakan yang ada harus menjadi agenda rutin. Dengan demikian, setiap keputusan yang diambil tidak akan merugikan masyarakat maupun lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam proses ini menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dengan menghadirkan suara masyarakat dalam setiap aspek kebijakan, diharapkan ancaman krisis lingkungan dapat diminimalisasi. Ini adalah langkah penting menuju suatu pembangunan yang lebih berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan rakyat.
















