Harga rumah sekunder di Indonesia menunjukkan catatan yang menarik pada akhir tahun 2025. Dalam laporan terbaru, terjadi kenaikan yang tergolong kecil tetapi sangat penting, memberikan sinyal positif di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Pergerakan harga yang mengalami peningkatan sebesar 0,2% secara bulanan mencerminkan adanya harapan di pasar yang selama ini mengalami tekanan. Meskipun tidak signifikan, ini menjadi titik terang bagi para pelaku industri dan masyarakat yang mengharapkan pemulihan.
Dalam kondisi ekonomi yang dipenuhi ketidakpastian, informasi terkait pasar rumah menjadi sangat krusial. Banyak pihak berusaha memahami dinamika harga dan pasokan, agar dapat membuat keputusan yang lebih baik.
Analisis Terbaru Harga Rumah Sekunder di Indonesia
Data terbaru menunjukkan bahwa secara keseluruhan, harga rumah sekunder di Indonesia mengalami kenaikan 0,2% dari bulan sebelumnya, dan 0,7% dibandingkan tahun lalu. Adanya kenaikan ini menjadi tanda bahwa pasar mulai bergerak setelah beberapa bulan mengalami stagnasi.
Dengan mengamati 13 kota besar di Indonesia, terlihat bahwa delapan kota mengalami kenaikan harga bulanan. Sementara itu, sembilan kota lainnya mencatatkan pertumbuhan positif jika dilihat dari perspektif tahunan.
Walaupun terdapat pertumbuhan, penting untuk diingat bahwa kondisi ini belum menunjukkan pemulihan yang utuh. Inflasi dan daya beli masyarakat yang menurun tetap menjadi tantangan besar yang harus dihadapi di tahun 2026.
Kota-kota dengan Pertumbuhan Harga Tertinggi
Beberapa kota yang mencatatkan kenaikan harga tahunan tertinggi di antaranya adalah Denpasar, Bekasi, dan Makassar. Denpasar mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan mencapai 2,5%, diikuti Bekasi dengan 2,4%, dan Makassar dengan 2,2%.
Namun, tidak semua kota menunjukkan tren positif. Beberapa daerah seperti Bogor dan Surakarta masih mengalami penurunan harga, yang menunjukkan adanya ketidakmerataan dalam pertumbuhan pasar rumah.
Di sisi lain, dari perspektif suplai, pasar rumah sekunder menghadapi tantangan signifikan. Volume suplai tercatat turun 1,0% secara bulanan dan 9,1% secara tahunan, hal ini mencerminkan ketidakpastian yang dirasakan oleh pemilik properti.
Peran Wilayah Jabodetabek Dalam Pasar Properti
Wilayah Jabodetabek tetap menjadi jantung pasar properti di Indonesia, dengan beberapa kota seperti Depok dan Bekasi yang mencatatkan kenaikan harga. Depok menunjukkan pertumbuhan harga bulanan sebesar 1,3%, sementara Bekasi naik 0,4% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.
Kota Tangerang juga terlihat pulih dengan mengalami kenaikan tahunan sebesar 0,4%. Pertumbuhan ini memberikan harapan bahwa pasar mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah tekanan yang parah pada awal 2025.
Di luar Pulau Jawa, kota Makassar juga menunjukkan performa yang baik dengan kenaikan harga bulanan mencapai 1,7%. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu area yang menarik bagi investor, terutama dalam segmen rumah kecil dan besar.
Respon Terhadap Inflasi dan Dampaknya Terhadap Harga Rumah
Dari segi makroekonomi, inflasi Desember 2025 tercatat pada angka 2,92%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahunan harga rumah yang hanya 0,7%. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa harga rumah belum sepenuhnya mampu mengimbangi laju inflasi yang terjadi.
Situasi ini menyoroti pentingnya kebijakan moneter yang kembali memerankan perannya. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75% untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat tekanan inflasi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
Sementara itu, pelaku pasar perlu memantau dengan seksama dinamika ini di tahun 2026. Kenaikan yang lebih mapan diharapkan dapat seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat dan stabilisasi inflasi.
Prediksi dan Proyeksi Pasar Properti di Tahun 2026
Secara keseluruhan, data yang tersedia menunjukkan bahwa pasar rumah sekunder sedang fase stabilisasi, tanpa menunjukkan adanya lonjakan yang signifikan. Kenaikan harga yang kecil dan suplai yang terbatas harus dicermati secara hati-hati oleh para pelaku industri.
Selama bulan-bulan awal tahun 2026, arah pasar akan menjadi sangat penting untuk dicermati. Apakah tren ini akan berlanjut atau terhenti, sangat bergantung pada kebijakan ekonomi dan respons masyarakat.
Bagi konsumen, situasi saat ini memberikan peluang negosiasi yang lebih baik. Sedangkan bagi investor, tahun 2026 mungkin merupakan waktu yang krusial untuk memilih antara bertahan dalam situasi defensif atau mencari peluang pertumbuhan yang lebih agresif.
















