Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, baru-baru ini mengumumkan bahwa Adies Kadir telah mengundurkan diri dari partai tersebut. Pengunduran diri ini menyusul pencalonan Adies sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi, suatu langkah yang menandakan pergeseran signifikan dalam karier politiknya.
Namun, Sarmuji menghindari pertanyaan mengenai kapan tepatnya Adies mengambil keputusan ini. Hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan pengamat politik mengenai alasan di balik pengunduran dirinya.
Sarmuji menegaskan bahwa partainya belum menunjuk pengganti untuk posisi Wakil Ketua DPR yang ditinggalkan Adies. Dia menyatakan bahwa pembahasan mengenai pengganti tersebut akan dilakukan oleh Ketua Umum dan Fraksi Golkar di DPR.
Pengunduran Diri Adies Kadir dari Partai Golkar dan Dampaknya
Dalam sebuah konferensi pers, Sarmuji menjelaskan bahwa pengunduran diri Adies Kadir menandai akhir dari perjalanan politiknya dalam partai beringin. Kondisi ini tentu saja mengubah dinamika di dalam Fraksi Golkar, terutama menjelang pemilihan legislatif yang akan datang.
Adies Kadir, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua DPR, kini berfokus untuk menjalani tahapan selanjutnya dalam proses pencalonannya sebagai hakim Mahkamah Konstitusi. Ia terpilih sebagai calon hakim dalam rapat pleno yang diadakan oleh Komisi III DPR.
Komisi III DPR telah memberikan persetujuan untuk pencalonan Adies Kadir dengan dukungan dari delapan fraksi. Procedur yang dilalui dalam uji kelayakan terbilang cepat dan tanpa pendalaman oleh anggota rapat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya posisi tersebut di mata para anggotanya.
Proses Pencalonan Hakim Mahkamah Konstitusi
Adies Kadir ditunjuk untuk menggantikan Arief Hidayat yang akan pensiun pada Februari 2026. Pencalonan ini menjadi perhatian publik karena Arief Hidayat merupakan sosok penting dalam sejarah Mahkamah Konstitusi selama ini.
Dalam proses pemilihan tersebut, Adies sempat mencuri perhatian publik sebelum akhirnya dinyatakan tidak bersalah oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR terkait dengan tuduhan yang pernah menyelimuti namanya. Ini menjadi salah satu momen penting yang mengubah pandangan masyarakat terhadap dirinya.
Setelah kembali aktif di depan publik, Adies tampaknya menghindari sorotan media. Ketidakhadirannya dalam berbagai kesempatan menimbulkan tanda tanya mengenai langkah-langkah strategis berikutnya dalam karier politiknya.
Reaksi Publik terhadap Pencalonan dan Pengunduran Diri
Pencalonan Adies Kadir menjadi hakim Mahkamah Konstitusi menuai beragam reaksi di kalangan publik. Banyak yang menganggap ini sebagai langkah positif untuk meningkatkan representasi yang baik di lembaga peradilan tertinggi.
Namun, ada juga kritik yang menyatakan bahwa keputusan ini menunjukkan adanya ketidakpastian dan kebingungan di dalam Partai Golkar. Kritikus mengingatkan bahwa pengunduran diri Adies dapat menjadi sinyal adanya masalah internal yang lebih besar.
Peristiwa ini juga menggugah diskusi tentang transparansi dan akuntabilitas di lembaga legislatif. Publik menunggu langkah-langkah konkret dari partai dan para anggotanya untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap kepentingan masyarakat.
















