Kegiatan bedah buku yang berjudul Reset Indonesia, karya sejumlah jurnalis senior, menjadi sorotan saat terjadi pembubaran aparat di Madiun, Jawa Tengah. Di sisi lain, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menunjukkan momen berbeda di mana bupati dan perangkat daerah terlibat aktif dalam diskusi di hutan kota.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, hadir langsung di acara tersebut. Ia menyampaikan pentingnya kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran para pegawai negeri mengenai peran mereka dalam mendorong perubahan positif di daerah.
Dalam kesempatan ini, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Trenggalek mengikuti bedah buku Reset Indonesia yang berlangsung di Amphitheater Hutan Kota, pada Senin (22/12). Ini adalah langkah konkret untuk mendorong ASN berpikir kritis dan meningkatkan kinerja pemerintah daerah.
Pentingnya Berpikir Kritis di Kalangan ASN
Mas Ipin, sapaan akrab Mochamad Nur Arifin, menjelaskan tujuan utama mengajak ASN berpartisipasi adalah agar mereka dapat mengritisi diri sendiri. Hal ini penting agar pemerintah daerah dapat terus berbenah menuju arah yang lebih baik.
Menurutnya, untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik, perubahan harus dimulai dari individu. ASN memiliki tanggung jawab besar dalam membawa perubahan di lingkungan mereka masing-masing.
Buku Reset Indonesia ditulis oleh empat jurnalis dan membahas berbagai isu krusial yang dihadapi Indonesia, serta menawarkan solusi berbasis penelitian yang mendalam. Pendekatan ini menjadi penting bagi ASN untuk memahami kompleksitas masalah yang ada di masyarakat.
Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi dalam Pembangunan Daerah
Mas Ipin menegaskan bahwa ia sejalan dengan ide keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Konsep ini menjadi bagian sentral dalam arah pembangunan kawasan Trenggalek, di mana pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam seperti air bersih harus dilakukan dengan bijaksana. Pelayanan kepada masyarakat harus terintegrasi dengan kewajiban menjaga kelestarian lingkungan.
Keberlanjutan dan keadilan sosial juga sangat ditekankan dalam konsep ini. Semua hasil dari sumber daya yang ada harus dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, agar keuntungan tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang saja.
Tantangan dalam Mengelola Sumber Daya Alam
Mas Ipin menggarisbawahi pentingnya pengelolaan air bersih sebagai contoh konkret keseimbangan yang ingin dicapai. Ia mendorong penerapan sistem yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memperhatikan kesehatan keuangan daerah dan kebutuhan masyarakat.
Pemkab Trenggalek berkomitmen untuk mencari sumber pendapatan alternatif seperti usaha air minum dalam kemasan, sebagai upaya meningkatkan pelayanan. Hasil dari usaha tersebut nantinya akan diinvestasikan kembali demi memperluas aksesibilitas air bersih.
Mengenai kebijakan lingkungan, ia menegaskan bahwa meskipun ada kebijakan ketat terkait penebangan, tetap ada produksi kayu di lahan rakyat. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menjaga keberlanjutan hutan dan mencari solusi bagi pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
Diskusi Kritis dan Publikasi Buku sebagai Sarana Perubahan
Mas Ipin merekomendasikan kegiatan bedah buku seperti ini sebagai sarana efektif untuk memacu pemikiran kritis. Ia percaya bahwa orang yang tidak mau mengkritik dan mengevaluasi diri juga tidak akan mengalami kemajuan.
Dalam pandangannya, buku Reset Indonesia memiliki nilai penting bagi pembaca, terutama mereka yang memegang kendali dalam pemerintahan. Kegiatan ini perlu diteruskan untuk mencari alternatif yang lebih adil dalam pengelolaan sumber daya.
Walau begitu, Mas Ipin juga menyadari bahwa tidak semua gagasan dalam buku tersebut sepenuhnya sejalan dengan pandangannya. Ada aspek yang memerlukan kajian lebih mendalam, terutama terkait pemanfaatan air dan keberlanjutan fiskal.














