Aksi penganiayaan yang dilakukan oleh seorang anggota kepolisian berpangkat Bripda, berinisial G, baru-baru ini menjadi viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di depan Mapolda Sumatera Utara pada hari Selasa, 18 November, ketika korban yang merupakan pegawai Avsec Bandara Kualanamu melintas dengan sepeda motor.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan Bripda G menderita gangguan jiwa berat, yakni skizofrenia, sejak tahun 2001. Meskipun demikian, sepanjang karirnya, pelaku belum pernah menunjukkan perilaku membahayakan sebelum insiden ini terjadi.
Korban dari penganiayaan tersebut, yang kini dirawat di rumah sakit, mengalami luka serius. Sementara itu, Bripda G sudah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof Ildrem untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan sesuai kondisinya yang kritis.
Mengapa Insiden Ini Menarik Perhatian Publik?
Insiden penganiayaan ini menarik perhatian banyak pihak, terutama karena melibatkan seorang anggota kepolisian. Kejadian ini memunculkan berbagai pertanyaan terkait kesejahteraan mental anggota-anggota kepolisian dan bagaimana mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam kondisi kesehatan mental yang tidak stabil.
Kasus ini memicu diskusi mengenai pentingnya pemeriksaan psikologis secara berkala bagi anggota kepolisian. Terlebih, dengan beban tugas yang berat, risiko gangguan mental di kalangan petugas hukum perlu mendapatkan perhatian serius tanpa menunggu insiden yang merugikan terjadi lebih dulu.
Banyak yang mulai meminta transparansi dalam penanganan kasus di kalangan kepolisian. Masyarakat ingin mengetahui mekanisme yang ada untuk mencegah terulangnya kasus serupa dan perlunya tindakan preventif bagi anggota yang memiliki riwayat gangguan mental.
Kondisi Kesehatan Mental dan Penanganannya dalam Kepolisian
Dokter spesialis gangguan jiwa, dr. Superida Sp.Kj, menjelaskan bahwa gangguan jiwa seperti skizofrenia dapat muncul akibat berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut dapat berupa tekanan psikologis, masalah ekonomi, hingga faktor keluarga yang tidak mendukung.
Bripda G, yang diketahui memiliki riwayat masalah mental sejak lama, mempertahankan aktivitas rutinnya sebagai anggota kepolisian meskipun dalam keadaan tertekan. Ini menunjukkan perlunya sistem yang lebih baik dalam penanganan kesehatan mental bagi petugas yang terlibat dalam tugas harian.
Selain dampak psikologis, permasalahan ini juga memberikan sinyal tentang beban emosional yang harus ditanggung oleh anggota kepolisian. Dukungan mental yang memadai seharusnya menjadi prioritas untuk memastikan mereka dapat berfungsi secara maksimal dan aman di lapangan.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Kasus Kesehatan Mental
Kesadaran masyarakat mengenai masalah kesehatan mental harus ditingkatkan, terutama dalam konteks pekerjaan yang berisiko tinggi seperti kepolisian. Insiden seperti yang dialami oleh Bripda G menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan benar.
Pengalaman hidup yang berat dan kekurangan dukungan dapat memicu masalah mental yang lebih serius. Oleh karena itu, masyarakat dan institusi harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi individu yang berjuang dengan kesehatan mental.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memahami kondisi orang lain dan menanggapi dengan empati. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental dapat membantu mengurangi stigma dan membuka jalan bagi pengobatan yang lebih baik.
















