Kawasan wisata Guci, yang terletak di Kabupaten Tegal, baru-baru ini mengalami bencana yang cukup parah. Hujan deras yang mengguyur daerah tersebut menyebabkan banjir bandang yang menghancurkan beberapa fasilitas wisata.
Dampaknya sangat mengkhawatirkan, termasuk rusaknya kolam air panas dan beberapa jembatan yang menjadi akses utama bagi pengunjung. Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana ini sangat signifikan. Laporan menyebutkan bahwa kolam air panas yang terkenal di Guci rata dengan tanah dan infrastruktur di sekitarnya juga tidak luput dari kerusakan.
Dampak Banjir Bandang di Kawasan Wisata Guci
Banjir bandang yang melanda kawasan Guci mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi masyarakat dan pengelola wisata. Pancuran air panas yang menjadi daya tarik utama bahkan tidak dapat dikenali lagi setelah diterjang banjir.
Salah satu alamat yang paling terpukul adalah Pancuran 13 dan Pancuran Barokah, yang kini hanya menyisakan puing-puing. Jembatan penghubung di lokasi juga putus tidak tersisa, menyisakan dampak yang panjang bagi penduduk setempat.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa jembatan-jembatan tersebut sangat penting bagi penyaluran ekonomi dan akses transportasi. Kehilangan fasilitas ini bisa berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata.
Penyebab dan Waktu Terjadinya Banjir
Kejadian banjir bandang ini memiliki akar penyebab yang cukup kompleks. Menurut informasi yang dihimpun, hujan deras yang mengguyur daerah hulu Sungai Gung menjadi pemicu utama.
Pada tanggal 23 Januari, masyarakat mendengar suara gemuruh dari arah sungai, yang menandakan bahwa air sudah mulai melimpah. Sekitar pukul 16.30 WIB, banjir mulai menerjang dengan sangat cepat.
Hal ini membuat masyarakat terkejut, karena sebelumnya hanya hujan biasa. Kenaikan debit air yang drastis menjadi tanda bahaya yang sering kali kurang diperhatikan oleh warga.
Respon Masyarakat dan Upaya Penanggulangan Bencana
Masyarakat setempat, seperti yang diungkapkan oleh Taufiq, salah satu warga, merasa panik dan bingung saat banjir datang secara tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa air datang begitu cepat dan mengangkut lumpur serta material lainnya, menjadikan situasi semakin buruk.
BPBD Kabupaten Tegal dengan sigap turun tangan untuk melakukan penanggulangan bencana. Mereka melakukan evaluasi terhadap kerusakan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi.
Langkah awal yang diambil adalah mendirikan posko bantuan untuk meningkatkan keselamatan warga. Selain itu, mereka juga melakukan pembersihan area yang terdampak agar masyarakat bisa segera beraktivitas kembali.














