Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data yang mencengangkan mengenai kondisi perumahan di DKI Jakarta. Menurut laporan tersebut, sebanyak 821 ribu rumah di Jakarta tergolong tidak layak huni, yang tentu saja mengundang perhatian banyak pihak terutama pemerintah dan masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam kesempatan meninjau lokasi bedah rumah di Kampung Ambon, Jakarta Barat. Kegiatan ini dilakukan bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, dan menjadi sorotan bagi upaya peningkatan kualitas hidup warga Jakarta.
Amalia menjelaskan detail lebih lanjut mengenai jumlah rumah yang tidak layak huni di setiap wilayah di Jakarta. Data menunjukkan bahwa Jakarta Barat menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yaitu sebanyak 258 ribu rumah yang tidak memenuhi syarat layak huni.
Sementara itu, Jakarta Timur mencatat 189 ribu, Jakarta Utara 174 ribu, Jakarta Selatan 134 ribu, dan Jakarta Pusat 60 ribu rumah. Hal ini menggambarkan tantangan besar yang harus ditangani oleh pemerintah untuk meningkatkan standar perumahan di ibu kota.
Komitmen Pemerintah dalam Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni
Dalam kesempatan yang sama, Maruarar Sirait mengungkapkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki 10.300 rumah di Jakarta. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam realisasi program tersebut.
Maruarar menegaskan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk peran beberapa menteri lainnya dalam mempercepat program bedah rumah ini. Ia berharap bahwa langkah ini dapat memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat terhadap hunian yang layak.
Jumlah rumah yang tidak layak huni memunculkan aspirasi baru agar masyarakat dapat memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan sehat. Dengan upaya yang dilakukan, diharapkan kualitas hidup masyarakat Jakarta dapat meningkat secara signifikan.
Data Terkait Akses Hunian Layak di Jakarta
Selain data mengenai rumah tidak layak huni, BPS juga melaporkan bahwa pada tahun 2025, hanya 37,71 persen rumah tangga di DKI Jakarta yang memiliki akses terhadap hunian layak. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan capaian nasional yang mencapai 68,4 persen.
Data ini menunjukkan kesenjangan yang signifikan dalam akses terhadap hunian yang layak, yang tentunya menjadi perhatian utama bagi pemerintah. Pemerintah dituntut untuk merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini.
Dengan demikian, pemerintah perlu melakukan peninjauan kembali terhadap berbagai program yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas perumahan. Upaya solusi yang lebih inovatif dan komprehensif sangat dibutuhkan agar semua lapisan masyarakat dapat menikmati hunian yang layak.
Peningkatan Alokasi Program Bedah Rumah oleh Kementerian
Kementerian Perubahan dan Kawasan Permukiman juga berupaya untuk meningkatkan alokasi program bedah rumah di DKI Jakarta. Pada tahun 2026, program ini ditargetkan untuk mencakup 10.300 unit, jauh lebih banyak dibandingkan hanya 158 unit pada tahun sebelumnya.
Program ini akan menyasar lima wilayah administrasi kota, termasuk Kepulauan Seribu, dan menjadi langkah awal dalam mewujudkan hunian yang lebih baik. Kementerian berharap bahwa dengan adanya program ini, semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati perbaikan kualitas hunian mereka.
Langkah-langkah yang diambil ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk meminimalisasi jumlah rumah yang tidak layak huni. Dalam konteks ini, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan bersama.
Menuju Jakarta yang Lebih Layak Huni dan Sehat
Dengan data statistik yang ada, tantangan bagi pemerintah untuk menciptakan Jakarta yang layak huni semakin nyata. Masyarakat berharap adanya kesungguhan dari pemerintah untuk memasukkan masalah perumahan ke dalam agenda prioritas pembangunan.
Semua langkah yang diambil diharapkan bukan hanya bersifat sementara, melainkan berkelanjutan dan sistematis. Pemenuhan kebutuhan hunian yang layak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan pihak swasta.
Ketika kualitas perumahan meningkat, maka kualitas hidup masyarakat juga akan semakin baik. Terlebih, program-program seperti ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi generasi mendatang.



