Hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara telah menyebabkan bencana alam berupa banjir pada hari Senin, 7 September. Kawasan yang paling terdampak termasuk Kabupaten Deliserdang, Kota Medan, dan Kabupaten Langkat, di mana ribuan warga mengalami kesulitan akibat penggenangan yang terjadi.
Walaupun tidak ada laporan tentang korban jiwa, namun ribuan kepala keluarga mengalami dampak langsung dari situasi ini. Air banjir dengan cepat menggenangi permukiman dan jalan, dan upaya penanganan bencana pun sudah mulai dilakukan oleh instansi terkait.
Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD setempat, Sri Wahyuni Pancasilawati, menjelaskan bahwa banjir di Deliserdang disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan Sungai Sei Putih meluap.
Kondisi Banjir di Kabupaten Deliserdang yang Terparah
Di Kabupaten Deliserdang, banjir terjadi di Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa. Ketinggian air diperkirakan mencapai 15 sentimeter dan mempengaruhi sekitar 30 kepala keluarga.
Pemerintah Kabupaten Deliserdang telah melakukan langkah-langkah koordinasi untuk mengatasi masalah ini, termasuk usulan pembuatan pintu klep untuk mencegah air masuk ke drainase. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir risiko banjir di masa mendatang.
Setelah situasi menjadi semakin kritis, BPBD Provinsi Sumatera Utara melanjutkan koordinasi dengan BPBD Kota Medan untuk penanganan bencana yang lebih efektif dan cepat di lokasi yang terpengaruh.
Pemukiman Warga Kota Medan Terendam Banjir
Kota Medan juga tak luput dari banjir yang merendam banyak pemukiman. Di Kecamatan Medan Maimun, tercatat 482 unit rumah terendam, mempengaruhi sekitar 1.948 jiwa yang terdiri dari 817 kepala keluarga.
Di Kelurahan Hamdan, misalnya, sebanyak 330 kepala keluarga mengalami dampak, sedangkan di Kelurahan Sei Mati, angka tersebut mencapai 327 kepala keluarga. Hal ini menunjukkan betapa parahnya situasi yang dialami masyarakat setempat.
Pihak berwenang telah mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan siap menghadapi situasi darurat apabila air kembali meningkat. Penanganan dan pemantauan terus dilakukan oleh BPBD untuk memastikan keselamatan warga.
Dampak Banjir di Kabupaten Langkat yang Luas
Kabupaten Langkat mengalami dampak yang paling signifikan dengan total 2.678 kepala keluarga diperkirakan terdampak banjir. Empat kecamatan, yakni Batang Serangan, Sawit Seberang, Padang Tualang, dan Tanjung Pura, menjadi pusat perhatian dalam penanganan bencana ini.
Pada Kecamatan Batang Serangan, Desa Sei Bamban mengalami ketinggian air yang bervariasi dari 30 hingga 1 meter, mengakibatkan 840 kepala keluarga terdampak. Di kecamatan lain, dampak serupa juga dirasakan dengan variasi tinggi air yang cukup signifikan.
Sementara itu, petugas BPBD terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Semua langkah diambil untuk mengantisipasi kemungkinan evakuasi, termasuk menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan.
Koordinasi dan Rencana Tindak Lanjut untuk Masyarakat
Kendati tidak ada warga yang mengungsi, BPBD telah bersiaga dengan menyiapkan perahu karet dan mobil tangki air. Persiapan ini penting untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila situasi tidak kunjung membaik.
Saat ini, Posko Pusdalops BPBD setempat tetap beroperasi 24 jam untuk memantau situasi terkini dan berkoordinasi dengan instansi lainnya. Tindakan ini diharapkan memudahkan aliran bantuan dan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Warga yang terdampak diimbau untuk tetap tenang dan waspada terhadap informasi terbaru yang disampaikan oleh pihak berwenang. Masyarakat diharapkan bisa bersiap menghadapi segala kemungkinan mengingat banjir bisa datang kapan saja.



