Insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II yang terjadi di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada hari Minggu, 2 Agustus, telah mengguncang banyak orang. Penumpang kapal menceritakan pengalaman menegangkan mereka saat terjebak dalam kepanikan akibat api yang melalap kapal yang mereka tumpangi.
Sejumlah penyintas, seperti Arya (23), mengisahkan detik-detik kebakaran yang mengubah perjalanan sehari-hari menjadi mimpi buruk. Mereka menghabiskan waktu hampir lima jam terombang-ambing di tengah laut menunggu pertolongan, sementara kepanikan melanda penumpang lainnya.
Arya, yang bekerja sebagai sopir ekspedisi, menggambarkan suasana tenang saat ia menikmati sarapan sebelum teriakan kebakaran memecah ketenangan tersebut. Ketika ia menyadari bahwa mobil yang ia bawa terbakar, semua berubah dengan cepat dan meninggalkan kesan yang mendalam di benak para penumpang.
Pengalaman Menegangkan di Atas Kapal KMP Mutiara Sentosa II
Saat kebakaran terjadi, Arya sedang duduk menikmat makanan paginya di dek kapal. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi kacau saat penumpang lain berteriak panik, memicu kepanikan massal yang tak terhindarkan. Arya pun bergegas mencari pelampung demi keselamatannya, sementara senapan sarapan yang ia nikmati terpaksa ditinggalkan.
Setelah mengenakan pelampung, Arya berlari menuju dek depan, namun melihat api yang semakin menghanguskan bagian depan kapal. Dengan keadaan yang semakin mendesak, ia memutuskan untuk melompat ke laut bersama penumpang lainnya, berharap untuk selamat dari bahaya yang mengancam.
“Semua penumpang sudah siap dengan pelampung,” kenang Arya, yang kemudian terombang-ambing selama lima jam di lautan. Dalam kebingungan itu, ia memilih untuk pasrah dan menunggu pertolongan yang diharapkan datang.
Proses Evakuasi dan Pertolongan bagi Penyintas
Harapan Arya untuk diselamatkan akhirnya terwujud ketika sebuah kapal tanker Pertamina mendekat. Bersama sebelas penyintas lainnya, Arya dievakuasi dari laut sebelum dipindahkan ke KRI Nala-363. “Kami diselamatkan oleh kapal Pertamina, dari sana kami dibawa ke KRI,” tuturnya.
Setelah proses penyelamatan yang penuh tantangan, Arya dan rekan-rekannya tiba di Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Momen itu menjadi salah satu titik terang di tengah pengalaman kelam yang mereka alami saat kebakaran.
Sementara itu, Reza, salah satu penyintas lain, juga berkisah tentang momen menegangkan saat kebakaran. Saat teriakan dari penumpang lain berkumandang, ia bergegas mencari pelampung dan berusaha melarikan diri dari asap yang semakin tebal.
Detail Insiden Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II
KMP Mutiara Sentosa II dilaporkan terbakar di perairan utara Madura saat mengangkut sekitar 250 penumpang. Insiden ini bermula ketika sistem komunikasi kapal terputus, sehingga situasi menjadi genting, dan pihak berwenang mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi. Kebakaran diduga mulai terjadi sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa informasi kebakaran diterima oleh petugas pada pukul 08.24 WIB. Tim SAR segera melakukan langkah-langkah koordinasi untuk memastikan lokasi terakhir kapal dan memperkirakan jumlah penumpang yang terjebak di dalam.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa posisi kapal berada jauh dari pulau, tepatnya 19 mil laut di utara Pulau Buruan. Tim penyelamat bekerja tanpa lelah untuk menjangkau para penyintas dan memastikan semua orang dalam keadaan selamat.
Hingga pukul 08.40 WIB pada hari Senin, 3 Agustus, sebanyak 234 penumpang KMP Mutiara Sentosa II berhasil ditemukan. Dari jumlah tersebut, 229 orang dinyatakan selamat sementara lima orang lainnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Kejadian ini menyisakan duka mendalam di hati keluarga dan kerabat korban.
Proses pencarian dan evakuasi dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab oleh pihak berwenang, menunjukkan dedikasi dalam menghadapi situasi darurat. Kesigapan tim SAR serta kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa para penyintas.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan di tengah perjalanan laut, serta perlunya perhatian lebih terhadap prosedur keselamatan di kapal. Di tengah kesedihan akibat musibah ini, harapan akan kajian mendalam dan evaluasi sistem transportasi laut semakin diperkuat, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.



