Bupati Blora, Arief Rohman, mengambil langkah unik dalam menjamu tamu dari pemerintah pusat. Alih-alih memilih lokasi jamuan di hotel atau restoran mewah, ia mengajak Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Erani Yustika, serta rombongan menikmati cita rasa kuliner lokal di Warung Lontong Opor Pak Pangat yang terletak di Ngloram.
Acara makan siang ini dihadiri juga oleh Direktur PEM Akamigas Cepu, Erdila Indriani. Suasana yang terbangun di warung sederhana ini sangat akrab, jauh dari nuansa formal yang sering kali menyertai jamuan pejabat.
Arief mengungkapkan, pemilihan warung lokal sebagai tempat jamuan bukan hanya sekadar berharap tamu menikmati hidangan daerah. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner sekaligus membantu mempromosikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Blora kepada pengambil keputusan di tingkat pusat.
Stratégis Diplomasi Kuliner oleh Bupati Blora
Menurut Bupati, pengalaman bersantap di tempat asal membawa kesan yang lebih mendalam dibandingkan hanya menjelaskan lewat presentasi atau brosur. Ia menyebut ini sebagai “diplomasi kuliner”, serangkaian langkah untuk memperkenalkan UMKM Blora secara langsung kepada para pembuat kebijakan. Ini adalah cara cerdas untuk menjadikan kuliner lokal sebagai sarana promosi.
Kari ini, momen bersantap bukan sekadar mengisi perut, melainkan juga meninggalkan ingatan yang erat. Dengan menikmati dan menghargai masakan lokal, para tamu diharapkan bisa menjadi duta promosi bagi Blora saat kembali ke kota asal mereka.
Arief menambahkan bahwa pengalaman langsung dengan cita rasa asli Lontong Opor Pak Pangat akan lebih melekat di ingatan ketimbang berbagai upaya promosi konvensional. Dengan mengingat dan menceritakan pengalaman tersebut, akan muncul kemungkinan bagi investasi ke depan.
Apresiasi dari Pejabat Pusat
Ahmad Erani Yustika, Sekjen ESDM, memberi respon positif atas hidangan yang disajikan. Ia mengungkapkan rasa terkesan pertamanya setelah mencicipi Lontong Opor Pak Pangat. “Dulu saya selalu beranggapan opor lezat datang dari daerah tertentu, tetapi setelah mencicipi yang satu ini, saya mengubah pandangan itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Erani juga memuji tekstur lontong yang tidak padat, serasi dengan rasa opor yang khas. Pengakuan positif dari seorang pejabat pusat ini tentunya menjadi dorongan semangat bagi pelaku UMKM kuliner di Blora, sekaligus menegaskan bahwa kuliner lokal patut diperhitungkan.
Rasa hormat yang ditunjukkan oleh pejabat tinggi ini memberikan angin segar bagi para pelaku usaha kecil. Ini membuktikan bahwa meskipun berbasis di daerah, mereka memiliki potensi yang setara dengan kuliner dari kota-kota besar lainnya.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berbasis UMKM
Lontong Opor Pak Pangat hanyalah satu contoh dari sekian banyak UMKM yang berusaha “naik kelas”. Pemerintah daerah memahami bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi lokal, yang menopang kehidupan masyarakat. Karena itu, dukungan kepada sektor ini terus ditingkatkan.
Program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Pemkab Blora, meliputi pendampingan usaha, pelatihan rutin, dan kemudahan dalam perizinan. Selain itu, mereka juga mengusahakan branding dan pemasaran yang lebih kuat, memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Arief menegaskan, kemajuan Blora bukan hanya terletak pada proyek infrastruktur fisik yang megah, tetapi lebih pada keberdayaan ekonomi masyarakatnya. Melalui dukungan yang konsisten, Blora berambisi membangun perekonomian yang kokoh dan berkelanjutan.
Kuliner sebagai Cita Rasa dan Identitas Wilayah
Dalam setiap suapan Lontong Opor Pak Pangat, terdapat pesan yang lebih dalam tentang potensi daerah. Blora secara bersamaan ingin mengingatkan masyarakat dan pemerintah di tingkat nasional bahwa meskipun terletak di pinggiran, mereka memiliki cita rasa yang berkualitas tinggi dan pelaku usaha yang bersemangat.
Melalui pendekatan ini, para pelaku UMKM di Blora berharap bisa mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan investor. Ketika cita rasa lokal dihargai, bukan tidak mungkin akan membuka lebih banyak kemungkinan untuk promosi dan kolaborasi di masa depan.
Bagi Bupati Arief, keberhasilan ini tidak hanya berarti peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha, tetapi juga penguatan sosial dan budaya yang berkelanjutan. Dalam hal ini, kuliner menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar daerah dan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan.



