Gunung Ili Lewotolok, yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meletus pada Selasa pagi. Tercatat dua kali erupsi dalam waktu kurang dari tiga jam, yang menyemburkan kolom abu tinggi ke udara dan mengkhawatirkan masyarakat setempat.
Petugas Pos Pemantau Gunung Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto, menjelaskan rincian peristiwa erupsi tersebut di mana kolom abu yang tebal terlihat dengan jelas pada pagi itu. Kejadian ini tentunya menarik perhatian karena lokasi gunung yang berada di kawasan wisata menarik di Indonesia.
“Erupsi pertama terjadi pukul 07.50 WITA, mengeluarkan kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak gunung,” ungkap Yeremias. Ia juga menjelaskan bahwa kolom abu ini berwarna kelabu dan memiliki intensitas tebal, serta bergerak ke arah barat, sesuai dengan pemantauan seismograf yang ada.
Aktivitas Vulkanik yang Meningkat di Gunung Ili Lewotolok
Situasi eruptions ini patut menjadi perhatian semua orang, terlebih lagi bagi yang tinggal di sekitar gunung. Erupsi kedua terjadi pada pukul 10.31 WITA dengan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan erupsi pertama.
Yeremias melanjutkan penjelasannya, “Kolom abu pada erupsi kedua mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak, atau setara dengan 2.123 meter di atas permukaan laut.” Ini menjadi pertanda bahwa aktivitas vulkanik di kawasan tersebut sedang tidak stabil.
Baik erupsi pertama maupun kedua mencatat amplitudo seismik yang sama, namun durasi erupsi kedua lebih lama. Fenomena ini menunjukkan bahwa gunung memiliki potensi untuk meletus lebih sering jika kondisi tidak berubah.
Respons Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Erupsi
Menyusul peningkatan aktivitas vulkanik, pemerintah setempat telah mengeluarkan serangkaian imbauan demi keselamatan. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati gunung dalam radius dua kilometer dari puncak.
Pemerintah Kabupaten Lembata menetapkan aturan ketat, yang mencakup larangan bagi pendaki dan wisatawan untuk melakukan aktivitas di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung.
Banjir Lava, awan panas, dan longsoran material vulkanik menjadi ancaman utama yang dikhawatirkan oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk berpikir secara kritis dan mengikuti petunjuk yang ada.
Pentingnya Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Erupsi Gunung
Dalam kondisi darurat seperti ini, penting bagi masyarakat untuk tetap dalam kondisi siap siaga. Selain menghindari zona berbahaya, penggunaan masker pelindung juga sangat dianjurkan untuk mencegah gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.
Pemerintah juga menyarankan agar masyarakat menutup tempat penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi oleh material vulkanik. Ini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan dan kesegaran air minum yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok juga menjadi hal yang penting. Dengan informasi yang tepat dan cepat, masyarakat akan lebih siap menghadapi situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu.



