Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan bahwa harga telur di tingkat peternak sedang mengalami penurunan yang signifikan. Dalam situasi ini, pemerintah berusaha mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga dan mendukung para peternak agar tidak mengalami kerugian.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Budi menyarankan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan pangan diaktifkan untuk menyerap produk telur dari peternak. Dengan langkah ini, diharapkan dapat menciptakan permintaan yang lebih tinggi dan membantu memperbaiki harga di pasar.
Langkah-Langkah Pemerintah dalam Menstabilkan Harga Telur
Pemerintah telah melakukan komunikasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional untuk memastikan pelaksanaan program MBG dapat berjalan dengan baik. Khususnya di daerah seperti Jawa Timur, yang merupakan salah satu pusat produksi telur, upaya ini dinilai sangat penting.
Budi menjelaskan pentingnya menyerap telur dari peternak lokal, sehingga harga di pasaran dapat distabilkan. Sebelumnya, harga telur di beberapa daerah mengalami penurunan drastis.
Dengan adanya penyesuaian dalam program bantuan pangan, telur dapat menjadi salah satu komoditas yang didistribusikan. Hal ini diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Perkembangan Harga Telur di Tingkat Peternak
Saat ini, harga telur yang diterima peternak berada di rentang Rp 20.600 hingga Rp 22.000 per kilogram. Rentang harga tersebut jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
HAP untuk telur saat ini berada di kisaran Rp 24.500 hingga Rp 26.500 per kilogram. Dalam konteks ini, stabilisasi harga menjadi kunci agar para peternak dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Diharapkan, melalui program-program yang digulirkan, akan muncul permintaan yang dapat meningkatkan kembali harga telur di pasaran. Seiring dengan itu, peternak juga diharapkan memperoleh keuntungan yang lebih baik.
Peran Telur dalam Program Pangan Pemerintah
Budi juga menekankan perlunya memasukkan telur sebagai salah satu komoditas dalam program bantuan pangan pemerintah. Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai gizi yang diterima masyarakat.
Ketika harga telur turun, beras atau minyak tidak selalu harus menjadi satu-satunya pilihan dalam bantuan pangan. Dengan memasukkan telur, variasi gizi dalam program bantuan dapat meningkat.
Program pangan yang inklusif dapat membantu mengatasi masalah gizi di kalangan masyarakat. Telur sebagai sumber protein yang baik diharapkan dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat melalui program-program pemerintah ini.



