Kekayaan seorang konglomerat terkemuka Indonesia, Prajogo Pangestu, mengalami penurunan yang sangat signifikan dalam satu hari perdagangan. Penurunan ini disebabkan oleh keputusan MSCI untuk mengeluarkan saham Grup Barito dari indeks bergengsi, yang mengakibatkan kerugian total mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 31,5 triliun.
Pengumuman ini berdampak besar pada saham-saham milik Prajogo, di mana enam saham Grup Barito, termasuk Barito Renewables Energy dan Chandra Asri Pacific, terjun ke dalam zona merah. Anjloknya harga saham ini tidak hanya berpengaruh pada kekayaan pribadinya, tetapi juga membawa IHSG turun nyaris 2% ke level 6.700-an.
Dengan merosotnya nilai kekayaan, kini tercatat bahwa harta Prajogo hanya menyentuh angka US$ 18,6 miliar. Dalam dua tahun terakhir, kekayaannya telah berkurang lebih dari Rp 875 triliun, menyusul pencapaian tertingginya yang mencapai US$ 70 miliar pada Mei 2024.
Meski mengalami penurunan yang signifikan, Prajogo tetap berada dalam peringkat 153 orang terkaya di dunia dan merupakan orang terkaya di Indonesia. Dia mengungguli banyak nama besar lainnya dalam daftar miliarder saat ini.
Kekayaan Prajogo sebagian besar diperoleh dari sektor petrokimia dan energi. Pengusaha ini dikenal sebagai sosok self-made billionaire yang membangun kekayaannya dari nol, berawal dari industri kayu sebelum berkembang ke sektor lainnya.
Pengalaman Awal dan Perjalanan Karir Prajogo Pangestu
Prajogo merupakan putra seorang pedagang karet yang memulainya dengan bisnis kayu pada akhir 1970-an. Perusahaan pertamanya, Barito Pacific Timber, mulai melantai di bursa saham pada 1993, menandai langkah awalnya menuju kesuksesan yang lebih besar.
Seiring berjalannya waktu, bisnis kayu mulai ditinggalkan. Di tahun 2007, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Barito Pacific dan mulai mengarahkan fokusnya ke sektor petrokimia. Keputusan ini merupakan langkah strategis yang membawa perubahan besar dalam struktur perusahaan.
Pada tahun yang sama, Barito Pacific melakukan akuisisi 70% saham Chandra Asri, sebuah perusahaan petrokimia yang terdaftar. Langkah ini menjadi pijakan penting dalam pengembangan bisnisnya di industri petrokimia dan energi.
Perkembangan Bisnis di Sektor Petrokimia dan Energi
Proses merger dengan Tri Polyta Indonesia yang berlangsung pada tahun 2011 menjadikan Chandra Asri salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Langkah tersebut semakin menguatkan posisi Prajogo di pasar yang cukup kompetitif.
Tak hanya fokus di sektor petrokimia, Prajogo juga menunjukkan ketajaman bisnisnya di sektor energi. Ia meluncurkan perusahaan tambang batu bara, Petrindo Jaya Kreasi, yang terdaftar di bursa pada tahun 2023, menambah portofolio usahanya yang sudah beragam.
Pada tahun yang sama, unit bisnis energi terbarukan, Barito Renewables Energy, juga dicatatkan, menunjukkan upayanya untuk beradaptasi dengan tren global menuju energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Langkah Strategis dan Investasi Terkini
Beberapa langkah bisnis yang cerdas diambilnya sepanjang beberapa tahun terakhir. Di tahun 2015, Chandra Asri Petrochemical menyepakati kerja sama dengan Michelin untuk mengembangkan pabrik karet sintetis, menjadi bagian inovasi dalam produksi industri karet di Indonesia.
Lebih lanjut, pada tahun 2022, cabang keluarga Prajogo mengambil alih kendali Star Energy setelah mengakuisisi 33% saham perusahaan tersebut. Nilai transaksi mencapai US$ 440 juta, menunjukkan ambisi untuk memperkuat posisi di sektor energi termal.
Baru-baru ini, pada November 2025, Chandra Asri mendapatkan pendanaan sebesar US$ 750 juta dari KKR untuk mendukung akuisisi aset Esso Singapore. Hal ini menunjukkan aktivitas korporasi yang terus berlangsung dan tidak berhenti meskipun mengalami tantangan.
Pembangunan Proyek Energi Hijau dan Inovasi Berkelanjutan
Prajogo juga menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap keberlanjutan lingkungan. Dalam laporan terbaru, dia bersama keluarga Zobel de Ayala berencana mengembangkan proyek energi angin di Indonesia. Ini menandakan transisi ke arah solusi energi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan langkah-langkah ini, pemahaman akan pentingnya energi hijau di dalam perusahaan kini semakin kuat. Ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan, tetap ada visi jangka panjang untuk keberlanjutan.
Strategi diversifikasi dan inovasi yang dilakukan Prajogo mencerminkan ketahanan serta kemampuannya untuk beradaptasi di pasar yang terus berubah. Dengan berbagai langkah berani, ia tentu berharap dapat mengembalikan dan bahkan memperbesar kekayaannya di masa mendatang.



