Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan betapa berbahayanya hoaks dan disinformasi bagi masyarakat, sebab dapat memecah belah dan menghambat pencapaian pembangunan daerah. Dalam seminar bertema ‘Wonosobo Melawan Hoaks’, yang berlangsung di Gelanggang Olahraga Kampus Universitas Sains Alquran pada akhir April, Luthfi mengajak semua pihak untuk tidak terjebak dalam informasi yang salah.
Menurutnya, informasi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk membangun, bukan menghancurkan kesatuan. Kegiatan ini merupakan usaha kolektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak negatif dari penyebaran berita yang tidak benar.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 3.000 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa, pengemudi ojek online, dan masyarakat umum. Inisiatif ini dipimpin oleh Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) yang dipimpin oleh Mantep Abdul Gani.
Pentingnya Menangkal Penyebaran Hoaks di Masyarakat
Dalam seminar ini, berbicara di hadapan para peserta, Indra Jaya Piliang, seorang wartawan senior, mengingatkan pentingnya memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayainya. Dia menekankan bahwa tidak seharusnya masyarakat menerima informasi begitu saja, terutama yang berasal dari media sosial.
“Metode jurnalistik yang baik adalah dengan tidak mempercayai semua yang diterima. Cek kebenaran informasi tersebut melalui berbagai sumber sebelum membagikannya,” ujar Indra. Sikap skeptis terhadap media adalah langkah awal untuk menanggulangi hoaks.
Iswandi Saputra, staf ahli Kementerian Agama RI, kemudian menjelaskan perbedaan antara hoaks dan mitos. Menurutnya, hoaks biasanya berkaitan dengan politik dan kekuasaan, sementara mitos lebih terkait dengan budaya dan keyakinan yang telah ada dalam masyarakat.
Strategi Efektif Menghadapi Penyebaran Hoaks
Iswandi juga memberikan saran praktis untuk mencegah penyebaran hoaks lebih lanjut. Dia berpendapat bahwa salah satu cara yang efektif adalah dengan tidak menonton atau membagikan video hoaks sebelum lima detik berlalu. Hal ini dapat membantu mengurangi eksposur terhadap konten negatif.
“Setelah lima detik, kita tidak hanya menonton tetapi juga membantu menyebarkan informasi tersebut,” tambah Iswandi. Kesadaran untuk memfilter informasi yang diterima menjadi kunci dalam menanggulangi masalah ini.
Dalam konteks ini, Mantep Abdul Gani juga menekankan potensi Wonosobo tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai pusat investasi. Dia percaya bahwa dengan memerangi hoaks, masyarakat bisa lebih fokus pada pembangunan yang konstruktif dan positif.
Wonosobo Sebagai Model Pembangunan Berbasis Komunitas
Menurut Mantep, Wonosobo memiliki banyak potensi untuk berkembang sebagai kota yang tidak hanya mengandalkan sektor pariwisata saja. “Kami menginginkan Wonosobo menjadi kota yang menarik bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan berkontribusi secara ekonomi,” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, diharapkan Wonosobo dapat menjadi daerah yang tidak hanya unggul dalam bidang pariwisata, tetapi juga memiliki ketahanan sosial dan daya tarik untuk investasi tinggi.
Dia juga menekankan bahwa langkah melawan hoaks adalah bagian dari usaha menjaga kebenaran dan persatuan di Indonesia. Melalui kolaborasi dan pencerahan, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya informasi yang benar dan akurat.



