Di tengah maraknya pengembangan pusat perbelanjaan yang sering digambarkan sebagai arena megah, PT Indonesian Paradise Property Tbk mengambil langkah berbeda dengan merancang 23 Semarang Shopping Center. Dengan luas yang terbilang tidak besar, desain yang unik menjadi kunci utama untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang tidak terlupakan.
Dengan luas sekitar 48.000 meter persegi, 23 Semarang mungkin bukan mal terbesar di wilayahnya, tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Setiap pengunjung yang melangkah ke sana merasakan suasana yang jauh lebih lapang daripada ukuran fisiknya, berkat pendekatan desain yang cermat.
Keunikan dari 23 Semarang terletak pada filosofi desain yang dikembangkan. Menurut Anthony P. Susilo, Presiden Komisaris yang baru saja diangkat, konsep yang diterapkan adalah “jauh di mata, dekat di kaki.” Filosofi ini menggarisbawahi pentingnya memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung dengan desain yang intuitif.
Filosofi ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi pedoman dalam merancang pusat perbelanjaan yang modern. Menurut Anthony, desain yang baik tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga pada bagaimana bangunan itu dapat berfungsi secara efisien dan memberikan kenyamanan kepada pengunjung.
Rancangan Mall yang Mudah Dikenali dan Tidak Membingungkan
Melalui pengalaman di berbagai pusat perbelanjaan, Anthony menyadari bahwa banyak desain justru membingungkan pengunjung. Koridor panjang dan bercabang sering kali membuat orang kesulitan untuk menemukan arah. Di sinilah 23 Semarang hadir dengan pendekatan yang berbeda.
Bentuk sirkular tentu menjadi terobosan, menciptakan jalur sirkulasi yang lebih mudah dipahami. Tak hanya itu, desain ini bertujuan untuk meminimalkan kebingungan di antara pengunjung, memudahkan mereka untuk menemukan titik temu tanpa harus berkeliling tanpa arah.
Dengan menghilangkan koridor sekunder yang dapat membingungkan, Anthony memastikan bahwa pengunjung dapat merasakan pengalaman berbelanja tanpa merasa tersesat. Konsep “double-facade” yang diterapkan pun memberikan nuansa yang berbeda dari kebanyakan pusat perbelanjaan di Semarang.
Anthony menyampaikan bahwa dengan desain yang sederhana dan mendasar, pengunjung bisa lebih cepat beradaptasi dan menikmati pengalaman berbelanja dengan lebih nyaman. Hal ini jelas terlihat pada besarnya tingkat kepuasan pengunjung yang datang saat pembukaan.
Ruang Hijau dan Sensasi Luas yang Diciptakan
Dalam pengembangan 23 Semarang, elemen terbuka juga menjadi fokus utama. Downtown Park sebagai pusat aktivitas bukan hanya menyuguhkan ruang hijau untuk relaksasi, tetapi juga menjadi tempat berkumpul bagi komunitas. Ini merupakan ruang yang menghubungkan berbagai area di dalam pusat perbelanjaan.
Konsep “visual line of sight” menjadi salah satu rahasia mengapa pengunjung merasa 23 Semarang terasa lebih luas. Dengan pandangan yang terang dan tidak terhalang, pengunjung dapat melihat hingga 100 meter ke depan, menciptakan sensasi kebebasan yang jarang ditemukan di mal lain.
Keberadaan pepohonan, area hijau, dan tempat berkumpul memperkaya suasana. Ini adalah langkah cerdas untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk berinteraksi sosial dan berdiskusi dalam suasana yang nyaman dan terbuka.
Dengan demikian, pengunjung yang datang tidak hanya sekadar melakukan transaksi, tetapi mampu menikmati rangkaian aktivitas lain yang memperkaya pengalaman mereka di 23 Semarang.
Konsep Aksesibilitas yang Nyaman di Dalam Pusat Perbelanjaan
Konsep “jauh di mata, dekat di kaki” juga diimplementasikan dengan lebih efisien dalam aksesibilitas. Pengunjung tidak perlu bingung mencari titik akses ketika ingin menuju lantai tertentu, karena jalur yang telah direncanakan dengan matang membuat perjalanan terasa lebih singkat.
Anthony menegaskan bahwa penting untuk mengalami kesan luas namun tetap nyaman dijelajahi. Akses drop-off kendaraan pun dirancang agar lebih efisien dan langsung, menghindari kesulitan yang seringkali dirasakan di pusat perbelanjaan lainnya.
Ketrampilan dalam mendesain aksesibilitas menjadi bagian penting dari pengalaman berbelanja. Pengunjung seharusnya tidak merasa terbebani saat menikmati hari mereka di mal, dan itu tercermin dalam pengalaman yang ditawarkan di 23 Semarang.
Dengan cara ini, diharapkan pusat perbelanjaan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan sekadar tujuan untuk berbelanja sesekali.
Menciptakan Daya Tarik untuk Kembali Berkunjung
Di balik semua keputusan desain tersebut, ada motivasi bisnis yang sederhana: menciptakan tempat yang membuat orang ingin kembali. Anthony percaya bahwa kualitas kunjungan jauh lebih penting dibanding sekadar jumlah pengunjung sekali. Rasa keterikatan dari pengunjung adalah yang menciptakan keberlanjutan bisnis pusat perbelanjaan.
Dari data yang diperoleh, saat ini tingkat okupansi tenant di 23 Semarang sudah mencapai sekitar 90 persen. Dalam pandangannya, angka ini tidak hanya menggembirakan, tetapi juga mencerminkan kesuksesan awal dari desain yang diterapkan.
Pengunjung yang merasa diberikan pengalaman menarik di pusat perbelanjaan akan lebih mungkin untuk kembali. Dengan upaya untuk menghadirkan berbagai fasilitas, kegiatan, dan pemaksimalan penggunaan ruang, 23 Semarang berkomitmen untuk selalu memberikan alasan bagi masyarakat untuk berkunjung kembali.
Dengan pendekatan yang inovatif, Anthony berharap bahwa pusat perbelanjaan ini dapat menjadi elemen yang penting dalam kehidupan masyarakat di Semarang.
Mewujudkan Oasis Baru di Tengah Kota Semarang
Konsep “The Oasis of Semarang” diusung untuk menggambarkan semua elemen ini. Ruang terbuka, komunitas, hiburan, dan belanja diintegrasikan dalam satu kawasan. Dengan cara ini, 23 Semarang diharapkan tidak hanya sebagai destinasi, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup.
Pengembangan Downtown Park menjadi jantung kawasan, di mana berbagai aktivitas dapat dilaksanakan secara bersamaan. Alih-alih menjadikan seluruh area untuk komersial, sebagian dimanfaatkan untuk hiburan dan interaksi sosial.
Kehadiran beragam tenant makanan dan minuman juga menjadi nilai tambah, menawarkan pengalaman yang beragam bagi pengunjung. Hal ini memastikan bahwa 23 Semarang tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga tujuan gaya hidup yang menyenangkan.
Setelah dibuka, trafik pengunjung berada pada kisaran 30.000 hingga 40.000 orang per hari, dan angka ini menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan ini berhasil menarik minat masyarakat. Namun, Anthony mengingatkan bahwa tujuan utamanya adalah membuat pengalaman berkelanjutan yang menjadikan 23 Semarang bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.



