Sudono Salim, yang lebih dikenal sebagai Liem Sioe Liong, adalah sosok penting dalam sejarah bisnis Indonesia. Dikenal sebagai salah satu konglomerat terkemuka, perjalanan hidup dan kariernya dipenuhi dengan berbagai liku dan tantangan yang menjadikan namanya tak terlupakan di tanah air.
Memulai usahanya di era awal kemerdekaan, Sudono memiliki latar belakang yang unik dan menarik. Ia dikenal sebagai pengusaha yang bergerak dalam sektor impor dan logistik, yang pada saat itu sangat dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan militer Indonesia.
Berawal dari hubungan yang terjalin dengan Kolonel Soeharto, perjalanan bisnis Sudono semakin menjanjikan. Dengan jaringan yang luas serta visi bisnis yang tajam, ia berhasil menempati posisi strategis dalam perekonomian negara.
Membangun Kerjasama Strategis Dengan Penguasa
Hubungan keduanya dimulai melalui perantara sepupu Soeharto, dan dalam waktu singkat, Sudono menjadi pemasok logistik utama bagi kekuatan militer yang dipimpin Kolonel Soeharto. Dalam konteks itu, keduanya menjalani hubungan yang saling menguntungkan yang bertahan selama beberapa dekade.
Setelah Soeharto menjadi presiden pada tahun 1960-an, pengaruh Sudono semakin berkembang. Melalui kelompok bisnisnya, Liem Sioe Liong berhasil melakukan berbagai investasi, termasuk dalam sektor perbankan dan makanan.
Situasi politik dan ekonomi di Indonesia pada saat itu menciptakan peluang besar bagi pengusaha seperti Sudono. Hubungan eratnya dengan Soeharto memberikan perlindungan yang signifikan, memungkinkan grup bisnisnya untuk tumbuh pesat.
Dari Kejayaan Menuju Krisis Mendalam
Selama bertahun-tahun, Sudono sukses membangun kerajaan bisnis yang meliputi Bank Central Asia (BCA) dan beberapa perusahaan lainnya. Namun, semuanya hancur ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. BCA, yang sebelumnya menjadi salah satu bank terkemuka, merasakan dampak paling parah dari krisis ini.
Pada saat itu, nasabah bank mulai menarik dana mereka secara besar-besaran. Ratusan orang rela mengantri berjam-jam untuk mengambil tabungan mereka. Situasi ini membuat BCA berada di tepi kebangkrutan, di tengah ketidakpercayaan masyarakat.
Ketidaklandasan hubungan Sudono dengan Soeharto menimbulkan masalah baru. Banyaknya sentimen anti-Soeharto yang muncul akibat krisis membuat Sudono menjadi target kemarahan masyarakat. Rakyat menjadikan ia sebagai simbol dari kekuasaan yang korup dan elitisme.
Kerusuhan Mei 1998 dan Akibatnya Bagi Sudono Salim
Puncak dari kerusuhan terjadi pada 13 Mei 1998. Jakarta mengalami kekacauan luar biasa, dengan penjarahan dan pembakaran. Orang-orang yang diprovokasi menyerang aset-aset yang diasosiasikan dengan Tionghoa dan para pengusaha dekat Soeharto.
Kekacauan ini tidak saja menghancurkan bisnis, tetapi juga menimbulkan ketakutan di kalangan keluarga Salim. Saat istana kepresidenan bergolak, Sudono dan keluarganya harus berlari menghindari amukan massa yang menggila.
Bahkan, rumah Sudono di Jakarta tidak luput dari sasaran. Massa yang marah membakar rumahnya, menghancurkan semua yang memiliki nilai, baik material maupun emosional. Dalam sekejap, semua yang dibangunnya bertahun-tahun terlalu hancur.
Upaya Melanjutkan Usaha dan Kebangkitan Kembali
Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto lengser, kekuatan bisnis Sudono mengalami kerugian besar. BCA sebagai lembaga keuangan utama harus diselamatkan pemerintah, dan pada akhirnya diambil alih. Situasi ini menjadi titik balik dalam sejarah bisnis keluarga Salim.
Meski mengalami kerugian, grup bisnis ini berusaha untuk bangkit kembali. Mereka mulai memfokuskan diri pada hingga saat ini, Indofood menjadi andalan utama untuk memulihkan kekuatan finansial keluarga Salim.
Kira-kira 30 tahun setelah tragedi tersebut, keluarga Salim berhasil mengembalikan kejayaan mereka. Sekarang, grup Salim tidak hanya menguasai sektor pangan, tetapi juga ekspansi ke sektor migas dan konstruksi, menjadikan mereka salah satu konglomerat terkaya di Indonesia kembali.



