Keputusan Pemerintah Singapura untuk menaikkan Bea Materai Pembeli Tambahan (ABSD) bagi pembeli asing hingga 60% pada tahun 2023 memberikan dampak signifikan yang terasakan hingga saat ini. Sementara itu, tingkat pajak ini juga meningkat hingga 65% bagi entitas atau perwalian, mendorong pergerakan modal investor ke kawasan sekitarnya.
Kebijakan ini diterapkan dengan tujuan untuk mengurangi speculasi dan menjaga keterjangkauan properti bagi penduduk lokal. Meskipun ada peningkatan pajak yang signifikan, Singapura tetap dianggap sebagai pasar yang aman untuk investasi properti.
Data menunjukkan bahwa proporsi pembeli asing mencapai 6,9% pada kuartal pertama tahun 2023. Menurut Menteri Pembangunan Nasional, langkah ini sangat penting untuk melindungi daya beli masyarakat setempat.
Bagaimana Kebijakan Pajak Baru Mempengaruhi Pasar Properti di Singapura?
Kebijakan ABSD baru ini diharapkan dapat mendinginkan pasar residensial di Singapura dengan cara menahan para investor kelas atas. Dampak ini terlihat dari pengalihan perhatian investor ke wilayah penyangga yang lebih terjangkau.
Pada saat yang sama, singapura tetap mempertahankan posisinya sebagai pusat keuangan global. Daya tarik Singapura tidak hanya terletak pada propertinya yang aman, tetapi juga pada faktor-faktor lain seperti kestabilan pemerintahan dan sistem pendidikan yang baik.
Investor dari kota-kota dengan biaya hidup tinggi seperti Shanghai masih membandingkan harga properti di Singapura dengan harga di kota asal mereka. Mereka menemukan bahwa, meskipun ada tarif ABSD yang tinggi, investasi jangka panjang di Singapura tetap menarik.
Analisis Tren Investasi di Kawasan Sekitar Singapura
Kenaikan tarif ABSD juga mempengaruhi arah investasi di kawasan-kawasan seperti Batam, Bintan, dan Johor. Investor yang mencari efisiensi biaya kini beralih ke pasar di luar Singapura yang tidak memberlakukan pajak serupa.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, Batam menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan signifikan. Prosentase pengunjung internasional yang berasal dari Singapura mencapai 45% pada tahun 2025, menunjukkan bahwa Batam menjadi destinasi investasi yang sangat menarik.
Rata-rata harga properti di Batam berada di kisaran USD 114.000, menjadikannya pilihan yang terjangkau bagi investor dari Singapura. Investor kini bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih baik tanpa harus membayar pajak yang tinggi.
Kontribusi Investor Singapura di Bintan dan Johor
Bintan juga menunjukkan potensi yang besar dengan pangsa kedatangan internasional yang signifikan berasal dari Singapura. Lingkungan yang kondusif membuat Bintan mendapatkan perhatian lebih dari para investor yang berbondong-bondong mencari alternatif.
Johor menghemat banyak perhatian dari pihak investor karena kehadiran infrastruktur yang semakin baik. Misalnya, proyek RTS Link yang akan selesai pada akhir 2026 dijadwalkan hanya memakan waktu perjalanan 5 menit menuju Singapura.
Sektor jasa menjadi pendorong utama investasi di Johor, dengan tingkat pajak korporasi yang sangat kompetitif juga menarik lebih banyak bisnis. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan potensi pasar di kawasan tersebut.
Dua Arus Tren Pertumbuhan Pasar yang Terpisah
Penerapan ABSD baru menunjukkan dua arus tren yang berbeda. Di satu sisi, Singapura tetap menjadi tempat berlindung yang aman bagi investor kelas atas, sementara di sisi lain, kawasan sekitarnya mendapatkan limpahan investasi dari mereka yang mencari biaya lebih rendah dan imbal hasil yang lebih tinggi.
Pertumbuhan pasar di kawasan penyangga sangat bergantung pada kemampuan pengembang untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan harapan dan profil investor. Dengan semakin beragamnya pilihan investasi, potensi untuk pertumbuhan di kawasan ini semakin besar.
Kedua faktor ini—kebijakan pajak dan kondisi ekonomi lokal—akan terus memengaruhi keputusan investasi. Singapura, meskipun mengalami pengetatan pajak, tetap menjadi magnet bagi investor yang mencari stabilitas jangka panjang sambil meningkatkan aksesibilitas bagi mereka yang ingin berinvestasi di kawasan sekitar.


