Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, terutama antara Amerika Serikat dan Iran, yang membawa dampak serius bagi pasar energi global. Perusahaan minyak terbesar di Arab Saudi, Saudi Aramco, mengingatkan bahwa cadangan bahan bakar dunia berisiko mencapai titik yang sangat kritis jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut hingga musim panas ini.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyatakan bahwa stok bensin serta bahan bakar untuk pesawat terbang mengalami penurunan tercepat yang pernah tercatat sejak konflik dengan Iran dimulai. Gangguan pada jalur pelayaran utama energi ini telah menimbulkan rasa khawatir di seluruh dunia.
Nasser menegaskan bahwa dunia telah kehilangan pasokan minyak kumulatif mencapai sekitar satu miliar barel akibat dari konflik yang berkepanjangan ini. Dalam situasi ini, setiap rel kereta yang menghentikan pengiriman selama satu minggu menyumbangkan kehilangan sekitar 100 juta barel dari pasar global.
Dia mengungkapkan bahwa satu-satunya cadangan yang saat ini masih ada adalah stok onshore, namun jumlahnya telah menipis dengan signifikan. Ketersediaan minyak dari Selat Hormuz sangat penting, karena jalur ini biasanya memfasilitasi sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia.
Ketidakpastian di kawasan ini telah memaksa beberapa negara Asia untuk mengurangi konsumsi energi mereka. Di sisi lain, negara-negara Barat mulai agresif menggunakan cadangan strategi dan cadangan komersial mereka untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak.
Fluktuasi Harga Minyak yang Drastis
Dalam sepuluh minggu terakhir, harga minyak telah menunjukkan fluktuasi yang dramatis. Harga naik menjadi US$126 per barel pada akhir April, sebelum akhirnya kembali turun ke kisaran US$100 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pemerintah AS menunjukkan niatan untuk mencari solusi jangka panjang untuk konflik yang sedang berlangsung.
JPMorgan mengingatkan bahwa stok minyak komersial di negara-negara maju dapat mendekati batas tekanan operasional menjelang awal Juni. Keadaan ini berpotensi mengurangi kemampuan pasar global untuk memasok minyak dengan memadai, terutama dari Timur Tengah.
Menurut Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan, Natasha Kaneva, situasi ini dapat mendesak tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, meskipun perdebatan mengenai rencana perjanjian damai masih berlanjut. Jika tidak ada kesepakatan, kemungkinan harga minyak akan melonjak lebih tajam, yang dapat memicu inflasi di tingkat global.
Kaneva menduga bahwa situasi ini mungkin tidak hanya melahirkan lonjakan harga minyak mentah tradisional, tetapi lebih kepada krisis yang berkaitan dengan pengolahan dan kebutuhan bahan bakar bagi pengguna akhir.
Tantangan di Pasar dan Ketersediaan Stok
Nasser juga menekankan bahwa pasar masih terlalu optimis terkait dengan ketersediaan minyak yang ada di penyimpanan global. Banyak stok yang saat ini terkurung dalam kebutuhan operasional, seperti pengisian pipa dan batas minimum volume tangki penyimpanan.
Dia menilai bahwa level persediaan agregat secara global bukanlah gambaran yang akurat dari ketatnya pasar fisik yang terjadi saat ini. Selain itu, Badan Energi Internasional (IEA) sedang berupaya melakukan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah guna meredakan dampak konflik yang berlangsung.
Namun, kapasitas pelepasan cadangan minyak tersebut tetap memiliki batas. Nasser menyatakan bahwa di Eropa dan AS, jumlah maksimum yang dapat ditarik dari cadangan adalah dua juta barel per hari, yang tentunya sangat terbatas dalam konteks kebutuhan yang terus meningkat.
Peluang Ekspansi dan Pengurangan Ketergantungan
Saudi Aramco juga mengisyaratkan rencana untuk memperluas kapasitas ekspor minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah ini mencerminkan usaha Arab Saudi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor melalui Selat Hormuz yang kini semakin rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Nasser mengingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga pertengahan Juni, ketidakstabilan di pasar minyak mungkin akan berlanjut hingga tahun berikutnya. Dengan berlanjutnya gangguan pasokan, dibutuhkan waktu yang lebih lama bagi pasar untuk kembali seimbang dan stabil.
Dia juga menyebutkan bahwa Aramco dapat mencapai tingkat produksi berkelanjutan maksimum sebesar 12 juta barel per hari jika selat tersebut dibuka kembali. Namun, negara-negara penghasil minyak lainnya akan menghadapi kesulitan dalam meningkatkan produksi dengan cepat, yang dapat memperparah situasi ke depan.
Pada kuartal pertama tahun ini, laba Aramco mengalami kenaikan berkat lonjakan harga minyak dan kemampuan untuk mengalihkan ekspor dari Teluk ke pelabuhan di Laut Merah. Tindakan ini efektif dalam mengimbangi penurunan ekspor secara keseluruhan yang terjadi sejak bulan Maret.



