Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya mengenai kurangnya pabrik motor dan mobil nasional di Indonesia, meskipun negara ini telah merdeka selama hampir 81 tahun. Ia mencatat bahwa dengan pembelian sekitar 10 juta unit sepeda motor setiap tahun, potensi untuk mendirikan pabrik kendaraan buatan lokal masih sangat besar.
Dalam acara Sarasehan Kebangsaan di Jakarta, Prabowo mempertanyakan mengapa Indonesia masih bergantung pada impor kendaraan. Pertanyaannya mencerminkan kegelisahannya mengenai kemandirian industri nasional, yang masih belum sepenuhnya terwujud.
Prabowo menjelaskan bahwa dalam upayanya mendalami masalah ini, ia sering berdiskusi dengan para akademisi dan profesional. Ia ingin mengetahui mengapa Indonesia masih bergantung pada produk asing di sektor-sektor kunci seperti otomotif dan pertanian.
Menggali Masalah Kemandirian Industri Dalam Negeri
Selama berkunjung ke berbagai kampus, Prabowo sering kali bertanya pada para profesor mengenai kemandirian industri nasional. Ia mempertanyakan alasan di balik ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan, seperti gandum, ketika negara ini sebenarnya memiliki potensi untuk memproduksinya sendiri.
Salah satu diskusi yang ia lakukan adalah terkait produktivitas kelapa sawit. Prabowo ingin tahu mengapa produktivitas kelapa sawit di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Malaysia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggambarkan kepeduliannya terhadap nasib ekonomi negara.
“Mengapa kita tidak memiliki benih gandum sendiri dan masih mengimpor?” tanya Prabowo, menekankan pentingnya inovasi lokal dalam menghadapi tantangan global. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong terobosan dalam industri dan pertanian Indonesia.
Upaya Membangun Kemandirian Industri Otomotif
Walaupun Prabowo mengakui adanya tantangan, ia percaya bahwa Indonesia mulai bergerak ke arah kemandirian industri otomotif. Salah satu langkah yang diambilnya adalah dengan menggunakan Maung MV3 Garuda Limousine, kendaraan kepresidenan yang dirakit di tanah air.
Maung MV3, meskipun belum sepenuhnya menggunakan komponen lokal, merupakan simbol kemajuan industri otomotif Indonesia. Prabowo berpendapat bahwa penggunakan 65-70 persen komponen lokal sudah cukup untuk mengklaim kendaraan tersebut sebagai buatan Indonesia.
Dengan menggunakan kendaraan nasional, ia berharap dapat memotivasi produsen dan masyarakat untuk lebih percaya pada produk dalam negeri. Sikap ini menjadi salah satu bentuk dukungan nyata terhadap perkembangan industri otomotif lokal.
Pengalaman Pertama dengan Mobil Buatan Dalam Negeri
Prabowo juga menceritakan pengalamannya menggunakan mobil buatan Indonesia di masa awal jabatannya. Ia mengakui ada beberapa masalah teknis, seperti kebocoran saat hujan. Namun, ia melihat ini sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan produk nasional.
“Risikonya sekarang, selama saya menjabat, ya harus naik mobil buatan Indonesia. Waktu-hari pertama, ya lumayan. Kecuali kalau hujan keras,” ungkap Prabowo sambil bercanda tentang pengalaman uniknya itu.
Prabowo berharap, meskipun ada kekurangan, industri otomotif nasional bisa terus berkembang dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kendala teknis yang dihadapi segera disampaikannya kepada pihak produsen untuk diperbaiki.
Komitmen Terhadap Produk Dalam Negeri
Dalam pandangan Prabowo, komitmennya terhadap produk dalam negeri mencerminkan kepercayaannya terhadap kemampuan industri nasional. Ia mengakui bahwa pembangunan industri bukanlah hal yang mudah, namun perlu ditangani dengan serius dan komitmen.
Prabowo menghimbau agar semua pihak, termasuk produsen dan pemerintah, berkolaborasi untuk memajukan sektor industri dalam negeri. Ia percaya, dengan dukungan dan kerja sama yang baik, kemandirian produksi akan semakin mendekati kenyataan.
“Kita harus berani mulai, meskipun ada tantangan di depan,” ajaknya, menekankan pentingnya semangat juang untuk menciptakan industri yang mandiri dan kuat.


