Sebelum melaksanakan eksplorasi lima sumur baru, Pertamina EP Rantau Field berfokus pada pemulihan pascabanjir yang melanda wilayah operasionalnya. Proses pemulihan ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan semua fasilitas dapat kembali berfungsi dengan optimal.
Terdapat empat fase pemulihan yang diterapkan dalam proses ini, yaitu fase darurat, reaktivasi, pemulihan, dan keberlanjutan. Setiap fase memiliki tujuan spesifik, mulai dari penanganan keselamatan hingga memperbaiki infrastruktur yang terdampak banjir.
Tomi menjelaskan bahwa tim Pertamina EP Rantau Field melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan dari dampak bencana banjir. Salah satu langkah krusial adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik yang menjadi sumber utama operasi di PEP Rantau Field.
Baginya, pemulihan pasokan listrik adalah faktor penting yang mendukung operasional fasilitas umum dan peralatan produksi. Ketika listrik terputus, berbagai sistem termasuk instalasi pengolahan air juga terganggu, sehingga menghambat aktivitas produksi minyak.
Pemulihan Pasca Banjir dan Tantangan yang Dihadapi
Pembangkit listrik yang ada memanfaatkan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Namun, pasca banjir, High Pressure Compressor Station (HPCS) mengalami kerusakan berat sehingga alternatif penyediaan gas harus dicari.
Setelah melakukan analisa mendalam, pihak manajemen memutuskan untuk tidak mengaktifkan kembali HPCS yang selama ini menjadi sumber gas utama. Sebagai gantinya, mereka menemukan bahwa SP-5 yang dimodifikasi dapat mengambil alih peran HPCS dan menghidupkan kembali pasokan listrik.
Saat ini, HPCS dalam kondisi nonaktif, dan pasokan gas untuk pembangkit listrik mengandalkan dua sumur, yaitu SP-5 dan SP-1. Dengan langkah ini, operasional pembangkit bisa berjalan kembali meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.
Ketika produksi berhasil kembali, pada Mei dan Agustus 2026, angka produksi mencapai 2000 barel per hari, yang lebih tinggi daripada sebelum terjadinya bencana. Kini, PEP Rantau Field mampu mempertahankan produksi stabil di angka 1700 barel per hari.
Keterlibatan Tim dan Dukungan dari Berbagai Wilayah
Kami mendapatkan banyak pujian karena pemulihan ini berlangsung cukup cepat, hanya dalam waktu empat bulan. Padahal, estimasi awal kami adalah waktu pemulihan sekitar satu hingga tiga tahun,” tambahnya.
Kecepatan dalam proses pemulihan ini tidak lepas dari bantuan tim dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Wilayah-wilayah seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan lapangan lain turut berkontribusi dalam percepatan pemulihan fasilitas di Rantau Field.
Diketahui bahwa banjir besar yang terjadi pada akhir tahun lalu memiliki ketinggian hingga 4-4,5 meter dan meninggalkan endapan lumpur sekitar 30-80 sentimeter. Hal ini berdampak signifikan terhadap fasilitas produksi, perkantoran, dan tempat tinggal pekerja di kawasan tersebut.
Proses pemulihan ini melibatkan tidak hanya perbaikan fisik, tetapi juga upaya membangun kembali semangat dan moral tim di lapangan. Melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif, Pertamina EP Rantau Field berusaha keras untuk kembali ke kondisi semula bahkan lebih baik.



