Kenaikan premi risiko gagal bayar, seperti yang diukur oleh credit default swap (CDS) Indonesia, menjadi topik yang semakin hangat dibicarakan di kalangan ekonom dan investor. Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk., Irman Faiz, menyatakan bahwa isu ini dipicu oleh sejumlah faktor, dengan dinamika geopolitik menduduki peringkat teratas sebagai penyebab utama. Dalam situasi ini, penting bagi pemerintah untuk tetap disiplin dalam mengelola utang dan menjaga defisit anggaran, agar biaya pinjaman tetap terkendali.
Irman membahas soal dampak dari meningkatnya suku bunga utang dan kredit risiko dalam sesi tanya jawab pada acara Media Briefing Bank Indonesia. Ia mencatat bahwa meskipun ada ketidakpastian dari lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI), hal ini tidak menjadi satu-satunya penyebab dari kenaikan CDS yang terjadi.
“Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan CDS, dan yang paling signifikan adalah geopolitik,” ucap Irman. Menurutnya, jika ketidakpastian yang dihasilkan MSCI terus berlanjut hingga 2027, namun situasi geopolitik membaik, ada kemungkinan bahwa premi risiko secara keseluruhan akan mengalami penurunan.
Analisis Mengenai Peran Geopolitik dalam CDS Indonesia
Geopolitik memiliki dampak yang dalam terhadap persepsi risiko investor, dan hal ini tercermin dalam pergerakan CDS. Irman menegaskan bahwa bukan hanya faktor MSCI yang berperan, tetapi juga berbagai isu geopolitik global dan regional yang mempengaruhi stabilitas keuangan Indonesia. “Jika kita lihat secara keseluruhan, semua faktor ini saling terkait dalam menciptakan persepsi risiko di pasar,” jelasnya.
Dia juga menekankan bahwa pemerintah perlu menjalankan pengelolaan utang yang hati-hati dan bertanggung jawab. Konsistensi dalam menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) adalah langkah kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor. “Penting untuk menerapkan perilaku berhati-hati dalam manajemen utang, agar tidak memicu kekhawatiran yang lebih besar di pasar,” tambahnya.
Lebih lanjut, Irman memperingatkan akan potensi risiko downgrade dari lembaga pemeringkat, jika rasio beban bunga terhadap penerimaan negara tetap tinggi di atas 15%. Kondisi ini, jika dibiarkan, bisa memicu penilaian negatif yang lebih serius terhadap perekonomian Indonesia. “Kita perlu menjaga borowwing cost untuk dapat tetap menarik bagi investor domestik dan asing,” tuturnya.
Proyeksi Pasar Obligasi dan Yield SBN di Masa Depan
Dalam analisisnya terhadap pasar obligasi, Irman memproyeksikan bahwa yield Surat Berharga Negara (SBN) bisa menurun menjadi 7,2% pada tahun depan, dengan catatan bahwa yield obligasi AS juga mengalami penurunan menjadi 4,2%. Selisih imbal hasil antara kedua jenis obligasi sangat penting untuk menjadikan pasar obligasi domestik tetap menarik untuk investor asing.
“Sangat penting untuk menjaga selisih imbal hasil sebesar 240-270 basis poin agar imbal hasil SBN dapat tetap kompetitif,” ungkap Irman. Dia menekankan bahwa tanpa dukungan dari arus dolar untuk membiayai impor, perekonomian Indonesia akan menghadapi tantangan besar, terutama di tengah defisit transaksi berjalan yang dihadapi saat ini.
Irman juga menegaskan perlunya ketergantungan yang lebih rendah terhadap pasar saham untuk menarik investasi. “Di kondisi saat ini, kita tidak bisa berharap banyak dari pasar saham. Pasar obligasi akan menjadi harapan utama kita dalam menarik investasi dolar,” jelasnya.
Pentingnya Mempertahankan Kepercayaan Investor di Tengah Ketidakpastian
Mempertahankan kepercayaan investor adalah tugas yang menantang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Irman berpendapat bahwa pemerintah harus proaktif dalam berkomunikasi mengenai kebijakan fiskal dan moneternya. Komitmen dalam menjalankan kebijakan disiplin fiskal akan menjadi kunci untuk menjaga rating kredit Indonesia di mata dunia.
Selain itu, strategi jangka panjang dalam pengelolaan utang dan fiskal juga sangat diperlukan. Jika pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang jelas dan transparan, kepercayaan investor dapat terjaga, memungkinkan pengurangan biaya pinjaman secara bertahap. “Memelihara komitmen dalam defisit fiskal mencapai 3% adalah suatu keharusan,” tegasnya.
Irman juga mengingatkan bahwa setiap langkah yang diambil harus didasarkan pada analisis yang mendalam dan responsif terhadap situasi yang berubah-ubah. Dalam jangka panjang, disiplin dalam pengelolaan utang akan berkontribusi positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia. “Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan nasib ekonomi kita di masa depan,” pungkasnya.



