Di era informasi yang serba cepat, peran praktisi humas semakin penting dalam membangun kepercayaan publik. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga citra dan reputasi organisasi di tengah dinamika komunikasi digital yang terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, berlangsunglah PEMUDA 2026 – Ruang Humas Muda yang menjadi bagian dari Konvensi Humas Indonesia 2026 di Solo, Jawa Tengah. Forum ini bertujuan mengangkat peran generasi muda dalam menghadapi tantangan komunikasi yang semakin kompleks.
Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, menekankan pentingnya regenerasi di bidang humas disertai dengan pewarisan nilai-nilai etika dan profesionalisme. Pada tahun-tahun mendatang, tantangan komunikasi hanya akan semakin meningkat, terutama dalam era digital ini.
Bagi para ahli di bidang ini, membangun kepercayaan tidaklah mudah. Tingginya tingkat keterlibatan dan viralitas bahkan tidak selalu menunjukkan dampak yang positif bagi masyarakat.
“Generasi senior perlu mewariskan lebih dari sekadar panggung bagi generasi muda. Yang lebih penting adalah standar, etika, dan tanggung jawab profesi harus terus diteruskan,” tegas Boy dalam sambutannya.
Pentingnya Keterlibatan Publik dalam Komunikasi Digital
Budi Adiputro dan Arie Putra, co-founders Total Politik, menyuarakan pentingnya keterlibatan publik yang berarti dalam ruang digital. Keduanya sepakat bahwa komunikasi tidak boleh berhenti pada satu arah, melainkan perlu menyediakan ruang partisipasi bagi masyarakat.
Pandangan ini dikuatkan oleh Jerhemy Owen, seorang kreator konten lingkungan, yang menyatakan bahwa viralitas adalah langkah awal untuk menciptakan perubahan. Menarik perhatian publik adalah satu hal, tetapi mengubahnya menjadi tindakan nyata adalah tantangan sesungguhnya.
“Dampak sejati akan terwujud saat perhatian tersebut diterjemahkan menjadi perubahan perilaku yang nyata,” tambah Jerhemy. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada kemampuan menerjemahkan pengaruh menjadi aksi yang bermanfaat.
CEO & Founder JEJAKIN, Arfan Arlanda, berpendapat bahwa pengukuran yang jelas diperlukan untuk melacak hasil dari komunikasi yang dilakukan. Di sini, keberhasilan tidak hanya dinilai dari seberapa luas pesan tersebar, tetapi juga dari dampak yang ditimbulkannya.
Ketika organisasi menghadapi krisis, kepercayaan publik tidak dapat dipulihkan hanya dengan klarifikasi. Konsistensi antara pesan dan tindakan organisasi juga menjadi elemen krusial dalam membangun kembali citra.
Strategi Mengelola Reputasi di Era Digital
Troy Reza Warokka, yang menjabat Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat PERHUMAS, mengingatkan bahwa pengelolaan reputasi membutuhkan informasi yang konsisten dan pengalaman pengunjung yang nyata. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kepercayaan tidak hanya dibangun melalui promosi.
Sekar Adisty Prabandari, Kepala Komunikasi Korporat PT Blue Bird Tbk, menyoroti kebutuhan akan transparansi dan empati dalam respons organisasi. Tindakan organisasi harus mencerminkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan pengelolaan reputasi yang baik.
Disebutkan juga bahwa reputasi tidak hanya ditentukan oleh narasi yang disampaikan, tetapi juga oleh tindakan yang diambil. Ini menunjukkan bahwa organisasi harus bersikap proaktif dalam merespons kebutuhan dan harapan masyarakat.
Andi Raviali Ramadhan, Ketua PERHUMAS Muda Jakarta Raya, menegaskan pentingnya meneruskan nilai dan tanggung jawab profesi dalam kepemimpinan. Estafet kepemimpinan harus dimaknai sebagai proses mentransfer pengetahuan dan etika, bukan sekadar pergantian generasi.
Ghina Amani Kemal Gani, Executive Director LSPR Institute of Communication and Business, juga menyoroti bahwa reputasi yang dibangun harus terus dirawat. Ini penting agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Praktik Humas Modern
Kemampuan untuk memahami kecerdasan buatan (AI literacy) dan membaca data (data literacy) menjadi bekal penting bagi praktisi humas. Keduanya diperlukan agar generasi muda dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan akurasi dan tanggung jawab publik.
Pada sesi aktivasi bersama jurnalis data, peserta diajak untuk mengolah data menjadi narasi yang jelas dan informatif. Ini penting agar publik dapat memahami konteks data yang disajikan tanpa kehilangan makna yang terkandung di dalamnya.
Reza Aji Pratama, jurnalis data, menekankan bahwa angka harus diberi konteks agar menjadi berarti. Transaksi antara data dan interpretasinya harus dilakukan secara cermat agar dapat memberikan wawasan yang tepat.
Peserta juga diajak untuk memahami bagaimana mengolah informasi agar menjadi pesan yang bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa humas tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengelola narasi yang bertanggung jawab.
Dengan mengedepankan aspek visual dalam komunikasi, praktisi dapat membantu publik memahami informasi dengan lebih baik, sehingga pesan dapat tersampaikan tanpa mengubah makna yang dimaksud.



