Peningkatan kebutuhan listrik di Indonesia menjadi tema utama bagi perusahaan BUMN, PT PLN (Persero). Menurut EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar, langkah-langkah strategis terus diambil untuk memenuhi demand energi yang semakin tinggi.
“Salah satu strategi kami adalah dengan melaksanakan pengembangan energi surya hingga 100 GWp secara bertahap,” ungkapnya baru-baru ini dalam acara Forum Keberlanjutan Internasional Indonesia.
Fase awal dari upaya ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik yang ada. Upaya ini meliputi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baik dalam bentuk atap maupun terapung.
Berdasarkan studi dari Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, kebutuhan total listrik diperkirakan akan meningkat dari 539 TWh di tahun 2025 menjadi 1,813 TWh pada tahun 2060. Sekitar 28% dari permintaan tersebut akan datang dari sektor rumah tangga, dan kendaraan listrik diprediksi menyumbang sekitar 11% dari total konsumsi.
Yose Rizal Damuri, Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, menjelaskan bahwa program konversi dari kompor LPG ke kompor induksi atau listrik akan memberikan dampak signifikan pada kebutuhan listrik domestik. Program ini diproyeksikan dapat menambah permintaan listrik antara 27,62 GW hingga 53,43 GW.
“Pelaksanaan program konversi ini berpotensi menciptakan kebutuhan baru bagi solusi energi surya 100 GWp yang sedang kami kembangkan,” tuturnya.
Peran Kompor Induksi dalam Meningkatkan Permintaan Energi Listrik
Pada saat ini, penggunaan kompor LPG merupakan faktor utama dalam konsumsi energi rumah tangga. Sekitar 41,46% konsumsi energi rumah tangga di Indonesia berasal dari LPG, sementara ketergantungan pada impor LPG sangat besar, dengan 77,6% kebutuhan domestik dipenuhi melalui importasi.
Menurut Damuri, dengan adanya program konversi ke kompor induksi, ada potensi besar untuk menghemat devisa negara. Kompor induksi yang lebih efisien diharapkan bisa menggantikan produk LPG yang selama ini mendominasi.
Selain mengurangi ketergantungan pada impor, program ini juga dapat mendukung program energi terbarukan yang sedang digalakkan. Penutupan ketergantungan tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya subsidi yang selama ini diberikan oleh pemerintah.
Penggunaan kompor induksi juga diyakini dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya efisiensi energi. Dengan pengurangan konsumsi LPG, masyarakat diharapkan dapat beradaptasi dengan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan.
Melalui langkah-langkah ini, PLN tidak hanya fokus pada penyediaan energi, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan dalam pemakaian energi. Ini menjadi salah satu cara untuk berkontribusi terhadap pencapaian target net-zero emissions.
Adopsi Kendaraan Listrik untuk Mengurangi Ketergantungan Energi Fossil
Penerapan kendaraan listrik (EV) merupakan langkah strategis dalam agenda dekarbonisasi nasional. Dengan semakin banyaknya EV yang digunakan, diharapkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat berkurang secara signifikan.
Pada tahun 2025, kebutuhan bahan bakar bensin nasional diperkirakan masih harus dipenuhi melalui importasi, sebesar 23.660 kiloliter (KL). Di sinilah peran EV menjadi sangat penting dalam mengurangi angka tersebut.
Setiap tambahan 1 juta kendaraan listrik diprediksi bisa menghemat konsumsi bensin sekitar 1.250 KL per tahun. Hal ini membuktikan bahwa adopsi EV tidak hanya menguntungkan dari segi ekonomi, tetapi juga lingkungan.
Transformasi transportasi menuju elektrifikasi ini dijadwalkan mendukung industrialisasi Indonesia. Selain berkontribusi pada pengurangan emisi, ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya energi bersih.
Ke depan, PLN dan pihak-pihak lain diharapkan dapat melakukan sinergi dalam mempromosikan penggunaan EV. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mewujudkan masa depan energi bersih dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Strategi Jangka Panjang untuk Energi Terbarukan di Indonesia
Langkah-langkah yang diambil oleh PLN dalam pengembangan energi terbarukan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. Dengan komitmen untuk menghadirkan energi surya dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, PLN berupaya untuk menciptakan sistem energi yang berkelanjutan.
Pentingnya penyediaan energi terbarukan ini sejalan dengan kebutuhan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, PLN berperan sebagai garda terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mendukung transisi ke energi bersih.
Keberhasilan implementasi program-program semacam ini akan menjadi indikator progres menuju sasaran pengurangan emisi. Di samping itu, PLN juga berkomitmen untuk terlibat dalam inisiatif multi-stakeholder untuk meningkatkan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya energi.
Kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan dan penelitian akan dilaksanakan untuk mengeksplorasi teknologi baru dalam efisiensi energi. Hal ini dapat membantu mendorong inovasi yang berkelanjutan bagi dunia energi di Indonesia.
Dengan pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintahan, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam pengembangan energi berkelanjutan di masa depan.



