Tim pencarian dan penyelamatan terus berupaya keras dalam evakuasi korban akibat kebakaran yang melanda KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Sumenep, Madura. Insiden tragis yang terjadi pada Minggu pagi ini berhasil mengevakuasi total 236 orang, dengan rincian 231 orang berhasil selamat sementara lima lainnya dinyatakan meninggal dunia.
Data ini diperoleh dari upaya koordinasi sejumlah kapal yang turut berpartisipasi dalam misi evakuasi tersebut. Dengan begitu banyaknya nyawa yang terlibat, setiap detik sangat berarti dalam proses penyelamatan dan upaya mengurangi jumlah korban jiwa.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, memberikan updates terperinci tentang situasi. Hingga pukul 21.00 WIB, informasi yang diterima menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam usaha penyelamatan ini.
Proses Evakuasi Korban Berlangsung Intensif dan Terorganisir
Tim SAR bekerja sama dengan sejumlah kapal untuk melakukan penyelamatan korban. Dalam operasi ini, Kapal Meratus Pematang Siantar mencatatkan capaian tertinggi dengan mengevakuasi 111 penumpang yang selamat dan menyelamatkan dua orang yang sayangnya tidak dapat diselamatkan dalam kondisi hidup.
Kapal TB Hasnur 26, yang juga terlibat dalam proses ini, berhasil mengevakuasi 65 penumpang. Sayangnya, ada satu korban jiwa yang disayangkan, terpisah dari kelompok penumpang ini dan menunggu penjemputan lebih lanjut.
Satu lagi kapal yang menonjol dalam misi evakuasi ini adalah Kapal Transco Arafura, yang menyelamatkan 17 penumpang. Mereka kemudian dipindahkan ke KM Ferindo 1 untuk dibawa ke Pelabuhan Lembar, Lombok.
Kronologi Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 yang Mengguncang
Kapal Mutiara Sentosa 2 melayani rute Surabaya-Makassar dan dilaporkan terbakar di utara Sumenep saat mengangkut sekitar 250 penumpang. Kebakaran yang terjadi sangat mendadak ini menimbulkan kepanikan yang melibatkan seluruh awak kapal dan penumpang.
Kepala Kantor SAR menyatakan bahwa informasi pertama mengenai kebakaran didapat dari Syahbandar Tanjung Perak pada pukul 08.24 WIB. Ini adalah waktu kritis di mana kepanikan dan ketidakpastian awal terjadi di antara para penumpang dan awak kapal.
Komunikasi dengan nakhoda kapal sendiri sempat terputus setelah laporan awal mengenai kebakaran. Hal ini semakin mempersulit upaya penyelamatan, terutama karena kondisi kapal yang dilaporkan hampir terbakar habis.
Upaya Penyelamatan dari Seluruh Elemen Masyarakat dan Angkatan Laut
Proses pencarian dan penyelamatan ini bukan hanya melibatkan tim SAR dan kapal-kapal besar, tetapi juga masyarakat setempat. Nelayan dari Ambunten, Sumenep, turut serta dalam misi penyelamatan ini dengan mengambil risiko untuk menyelamatkan satu orang penumpang atas nama kemanusiaan.
Kepala Kantor SAR menjelaskan bahwa upaya evakuasi ini berlangsung terus-menerus meskipun tim sudah memperoleh perkembangan yang cukup signifikan. Tiap individu yang terlibat dalam pencarian korban di lapangan memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.
Pencarian berlangsung hingga malam hari, menunjukkan betapa seriusnya situasi dan komitmen tim dalam menyelamatkan nyawa. Baik di laut maupun di darat, tim penyelamat menunjukkan integritas dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas mereka.



